oleh :
Oesman Doank
SEBENERNYE, nasib mpok Midah nggak Malang banget. Bahkan, jauh dari Jogya apalagi surabaya. Nggak heran jika Mpok Midah tidak pernah mengeluh dan ke siapapun tak pernah mengaku sebagai kaum dhuafa. Jadi, tiap Mpok Midah mendengar ada orang kaya bagikan zakat, mpok Midah kagak pernah ikutan nimbrung. Bukan lantaran malas desak desakan atau takut terinjak injak. Tapi, Mpok Midah merasa tak berhak menerima. Soalnya, setiap bulan, sang suami, selalu menyetorkan gaji yang diperolehnya ke mpok Midah.
Meski begitu, dalam menghadapi anak bungsunya yang berusia delapan tahun, meski tidak pernah jalan jalan ke Jogya apalagi Surabaya, yang lebih jauh, Mpok Midah merasa menjadi ibunda yang Malang. Pasalnya, Toing, meski sudah berusia delapan tahun, setiap tiba waktu makan, tidak pernah mau makan kecuali disuapin.
Kalau tidak disuapin, meski menunya semur jengkol - makanan yang paling disukai Toing, putra bungsunya nggak bakalan mau makan. Itu sebabnya, Mpok Midah merasa sangat bernasib malang, sebab di waktu makan tiba, dia tidak bisa mengerjakan yang lain kecuali nyuapin Toing, yang kalau makan sukanya cuma diemut sehingga menghabiskan banyak waktu.
Mpok Midah bukan tidak pernah berikhtiar agar anaknya mau makan sendiri, karena dia ingin memanfaatkan waktunya untuk membersihkan dan beres beres yang belum beres di rumah. Hanya, tetap saja si putra bungsu nggak mau makan kecuali disuapin. Malah, Mpok Midah pernah mengatakan pada anaknya, agar makan sendiri, sebab kalau terus menerus disuapin, nantinya dia bisa ditangkap seperti Ketua SKK MIGAS, yang ditangkap karena ketahuan menerima suap.
Tapi, saat itu, Toing cuwek. Selain belum mengerti apa maknanya, Toing juga tidak mengetahui kalau koran dan televisi sedemikian gencar memberitakan kasus suap yang membuat KPK mengambil tindakan tegas dengan menangkap sang penerima dan pemberi suap.
Kalau saja Mpok Midah tidak sabar, boleh jadi dia sudah ambil tindakan. Tapi, karena Mpok Midah terbilang ibu yang memiliki kesabaran tinggi, sekesal kesalnya Mpok Midah, dia tak pernah punya niat menjual Toing ke luar negeri. Padahal, kalau mau, bisa saja Mpok Midah melakukannya dan uangnya bisa dia gunakan untuk plesiran ke mancanegara.
Cuma, Mpok Midah tak terpikir untuk melangkah ke arah itu. Jadi, sampai minggu silam, mpok Midah benar benar merasa nasibnya sudah sampai ke Malang, meski dia belum pernah mampir di Jogya apalagi Surabaya.
Hanya, Kamis kemarin, mpok Midah benar benar merasa sangat beruntung. Mpok Midah yakin, keberuntungan benar benar datang untuk menghampirinya. Sebab, putranya, yang dia perkirakan akan terus disuapin, tiba tiba saja mengatakan pada Mpok Midah kalau dirinya cuma mau makan jika tidak disuapin alias jika diijinkan makan sendiri.
" Benar nak kamu mau makan sendiri?" Tanya Mpok Midah, yang serasa tak percaya karena anaknya yang selama ini hanya mau makan jika disuapin, mendadak berubah pikiran tanpa dipaksa oleh mpok Midah.
"Iyaa.. bu. Toing insap dan mulai sekarang kalau makan Toing mau makan sendiri dan tak mau di suap suap lagi." sahut Toing.
"Sungguh kamu sudah mau makan sendiri?" Mpok Midah yang belum percaya kembali bertanya dengan perasaan haru, campur bangga tapi tak pakai pengawet atau boraks
"Iyaaa... bu. Soalnya, tadi Toing nonton berita di televisi.Katanya, ada seorang ketua yang ditangkap karena menerima suap. Toing nggak mau ditangkap, bu. Boleh yaa bu Toing makan sendiri"
Duuuuh... Mpok Midah yang tadi haru, meski barusan merasa kaget, setelah kagetnya hilang dia bersujud syukur. Sebab, ditangkapnya Akil Muchtar, si Ketua Mahkamah Konstitusi, yang beritanya disimak oleh Toing, membuat anaknya yang selama ini mesti disuapin, tak mau lagi disuapin karena nggak mau bernasib sama dengan Akil Muchtar, yang dicokok oleh KPK karena menerima suap.