Thursday, September 12, 2013

PAK BELALANG

TAK TAKUT DIRUNDUNG MALANG
oleh : Oesman


     JANGAN mengucap kata " kasihan " di hadapan pak Belalang, meski dia berada dalam kondisi, sedang dirundung malang. Bukan berarti dia enggan dikasihani. Hanya, dirinya merasa tak pantas untuk dikasihani. Pertama, karena dirinya sama sekali tidak cacat karena dua tangan dan dua kakinya ada, dua telinga pun masih bertahta di kiri kanan kepala. Pun anggota tubuh lainnya tak kurang satu apa. Mulai hidung, bibir, mata, alis, dagu dan yang lainnya, melekat sejak dia dilahirkan ke dunia.

     Jangan bilang : "Kasihan pak Belalang". Apalagi dengan suara keras dan sampai beliau mendengar. Mengapa? Karena Pak Belalang hanya ingin dikasihani oleh Sang Maha Pencipta. Kalau oleh sesama, dia tak berharap iba. Sebab, di tubuhnya yang sehat dan kuat, tersimpan tenaga yang kekuatannya dapat dimanfaatkan oleh pak Belalang untuk mencari nafkah.
     Hal itu dibuktikan oleh pak Belalang saat dia belum dapat pekerjaan tetap. Saat itu,, dia tak ingin luntang lantung yang bagaimana pun tetap lapar dan dahaga. Makanya, Pak Belalang tak hanya siap jadi kondektur Tapi, di waktu lain dia juga bersedia jadi kuli bangunan. Bahkan, saat pekerjaan tetap belum diperolehnya, pak Belalang pernah ikut jadi knek menggali sumur.
    Pendeknya, karena pak Belalang sangat bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah memberinya tubuh sempurna - tanpa cacat, dia tak butuh belas kasihan dari orang lain, sementara dirinya sendiri berleha leha. Makanya, saat seorang temannya mengajak pak Belalang mengemis, pak Belalang menolak mentah mentah
    " Apa salahnya? Saat perut lapar dan kita kehausan kan butuh makan dan minum. Kalau tak ada uang, mau beli pakai apa?" Kata kawannya yang kecewa karena pak Belalang menolak ajakannya.
    "Kalau aku lapar dan dahaga, kucari makan dan minum dengan tenaga. Aku bisa mengayuh becak, sanggup mendorong gerobak dan memikul air. Pokoknya, pekerjaan kasar apapun siap aku lakukan, karena aku bersyukur pada Tuhan yang telah menciptakan tubuhku tanpa cacat," ujar pak Belalang
    " Hei kawan... mengemis itu menghasilkan banyak uang. Modalnya, hanya tampil lusuh dan pamer wajah penuh duka. Lalu, tadahkan tangan uang datang berlimpah. Kalau seorang minimal kasih seribu rupiah, sehari dapat pemberian dari seribu orang, jumlah sudah sejuta. Bukankah malah membuat kita cepat kaya?" Desak temannya.
   Pak Belalang yang sama sekali tak tertarik, sebenarnya sangat kesal dengan rekannya yang mengajak mencari uang dengan cara seperti itu. Hanya, pak Belalang tak ingin mengumbar kesal.
   " Jika kamu ingin melakukannya, silahkan. Tapi, maaf... tubuhku masih sehat, tenagaku masih berlimpah. Jika dalam kondisi seperti ini aku mengemis, artinya sama saja aku menelantarkan karunia Tuhan yang tetlah memberiku tubuh yang tanpa cacat dan melimpahkan padaku kesehatan jasmani dan rohani"
   Rekan pak Belalang tak mau lagi membujuk apalagi memaksa. Dia meninggalkan pak Belalang dengan penuh rasa kecewa. Sedangkan pak Belalang bersyukur pada Sang Pencipta, karena tak tergiur dengan ajakan mencari nafkah dengan cara yang tidak selaras dengan keberadaan manusia, yang diberi tenaga dan pikiran, namun malah tak dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.
   Begitulah masa lampau yang dilalui oleh pak Belalang saat dia masih muda dan belum dapat pekerjaan tetap. Namun, karena dia pandai bersabar, akhirnya pak Belalang berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi, yang oleh masyarakat disebut atau dianggap sebagai tempat basah. Bukan karena gedungnya sering kebanjiran air dari sungai yang di musim hujan kerap kali meluap, tapi basah karena banjir penghasilan.
   Kalau saja pak Belalang mau dan ikhlas terseret arus, boleh jadi dia tak hanya ikut, tapi juga larut bersama rekan rekannya yang malah saling berlomba untuk bisa berbasah basah. Karena pilihan pak Belalang tidak ingin berenang dan berbasah basah meski di tempatnya bekerja kebanjiran rezeki, pak Belalang hanya ikhlas menunaikan tugas tanpa pamrih.
   "Bukankah setiap bulan aku digaji dan juga mendapat tunjangan yang memadai? Jumlahnya pun tak akan kurang, jika aku selalu bersyukur pada Tuhan dan hasil per bulan kumanfaatkan sesuai dengan kebutuhan," kilah pak Belalang, yang mau tak mau harus menjelaskan pada rekannya yang kerap terheran heran, karena pak Belalang tak tertarik untuk ikut lomba berbasah basah bersama semua rekannya.
    Meski keberadaan dan sikap pak Belalang akhirnya dipermasalahkan, pak Belalang tak pernah merasa dirundung malang. Dia yakin, jika orang lain merasa sangat berhak mengikuti kehendak hatinya dan lebih rela berbasah basah, dirinya pun berhak bersikap dan berprilaku sesuai dengan suara hatinya. Pak Belalang yang sikapnya tak ingin diusik oleh siapa pun, tetap bertekad untuk tidak mengusik siapapun.
    Toh, setiap manusia, kelak diminta pertanggung jawaban dan masing masing akan menuai buah dari bibit yang ditanam oleh setiap pribadi, semasa malakoni hidup dan kehidupan di dunia.


alt/text gambar 

0 komentar:

Post a Comment