Saturday, September 14, 2013

MEREKA, JANGAN DILUPAKAN

oleh : Oesman



        SANG AYAH bisa bersikap bijak. 
        Dia tak hanya kuatir pada anaknya yang masih dirawat dan membutuhkan perhatian, baik dari aspek medis maupun psikologis. Apa yang dilakukan sang ayah - yang menyempatkan diri untuk menyambangi keluarga korban, mencerminkan dirinya punya perhatian mendalam. Selain itu, sang ayah juga bijak. Tindakannya yang datang menjenguk keluarga korban, tak hanya bernilai hasrat bersilaturahmi dan berbagi duka. Tapi, sebagai bentuk lain dari tanggung jawab, yang siap dipikulnya. Dia merasakan, betapa duka mendalam dirasakan oleh keluarga korban, khususnya yang pasca kecelakaan menjadi yatim atau piatu.
       Sang ayah menunjukkan sikap bijak.
       Dia menyadari, petaka di tol Jagorawi mengakibatkan duka tak hanya bagi keluarganya. Juga bagi keluarga para korban, yang sama sekali tak menginginkan hal yang berbuah duka itu terjadi. Namun, ketika yang terjadi tak dapat dapat dihindarkan - baik oleh kemauan maupun oleh sikap hati hati, satu sama lain tak lagi berarti bila saling menyalahkan. Biarlah, sebab akibat dan konsekwensinya ditangani oleh kepolisian. Sebab, pihak yang berwajib memang mengemban tugas untuk menjadikan hukum sebagai hukum. 
      Sayang, kebijakan SANG AYAH tak berimbas ke yang lain.
      Kebanyakan orang malah seperti hendak mencari simpati. Mereka justeru fokus memperhatikan putra dari sang ayah. Popularitas sang ayah, memicu banyak orang terkenal untuk ambil bagian agar dirinya disorot dan diberitakan oleh media. Simpati yang ditunjukkan memang tak salah.
     Hanya, tidak adakah secuil simpati untuk melakukan hal yang sama, untuk menjenguk para korban yang masih dirawat di rumah sakit dan juga keluarga korban yang tewas, yang tentu sangat berduka karena telah kehilangan keluarga tercinta, yang diandalkan sebagai sosok yang menanggung beban untuk keluarga dan setelah tiada, anak anaknya tak hanya kehilangan ceria. Tapi sekaligus kehilangan peluang untuk melangkah ke masa depan, karena orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga telah tiada.
     Tak hanya para selebriti yang sepertinya menunjukkan simpati tapi sesungguhnya juga ingin namanya tetap diberitakan, oleh para awak media yang selalu stand by di rumah sakit, untuk mengikuti perkembangan putra sang ayah, yang telah menjalani beberapa kali operasi. Para Menteri pun "memperlihatkan" simpatinya yang tidak berimbang.
     Kalau saja fokus penjengukan tidak hanya ke satu arah, tak akan ada yang mengatakan mengapa para korban dan keluarga korban yang ditinggalkan tidak mendapat perhatian ? Padahal, boleh jadi, mereka tak hanya menderita dan menelan duka. Tapi, juga butuh perhatian khusus, baik dari aspek medis maupun psikologis.
    Apakah lantaran mereka tidak terkenal dan orang orang kecil yang dideskripsikan layak diluputkan dari perhatian? Jika tidak dimasukkan ke deskripsi seperti itu, mengapa tak timbul niat yang sama untuk membesuk, memberi support dan memberikan bantuan agar duka lara korban dan keluarga para korban sedikit berkurang?
    Sikap para awak media pun, sangat aneh. 
    Fokus peliputan hanya berpusat di tempat putra sang ayah dirawat. Sepertinya, kondisi korban dan keluarga korban tidak layak diberitakan karena bukan sosok terkenal dan dianggap hanya buang buang waktu karena tidak memiliki nilai jual.     
    Mestinya, jika putra sang ayah yang telah memperlihatkan sikap bijak seperti tak pernah dilupakan untuk dijadikan berita yang berkepanjangan, mereka yang jadi korban dan tengah dirawat serta keluarga korban yang kehilangan orang tercinta, jangan sampai dilupakan. Jangan sampai tidak diperhatikan. Bukan sebatas karena mereka juga manusia.
    Lebih dari itu, simpati dan empati harus disebar-luaskan secara merata. Jika Simpati dan empati hanya difokuskan ke satu tempat, kesan yang muncul hanya numpang lewat. Numpang memanfaatkan peluang karena di sana, sudah siap puluhan awak media yang siap berkerubung dan mewawancara setiap penjenguk yang namanya terkenal. Baik dia selebriti apalagi menjabat sebagai menteri.
   Jika sang ayah tidak melupakan korban dan para keluarga korban, dan mengklaim akan bertanggung jawab sepenuhnya, semoga tak hanya sikap bijaknya yang membuat para korban dan keluarganya merasa diperhatikan. Tapi, realisasi tanggung jawabnya, juga bakal membuat korban dan keluarga korban, merasa tidak disia siakan. 
   Bahkan, akan menilai, yang dilakukan sang ayah sangat banyak mengandung manfaat, karena membuat beban derita keluarga korban berkurang dan beban berat untuk masa depan anak anak yang ditinggalkan, menjadi banyak berkurang karena mereka diberi solusi untuk tetap mengarungi hidup tanpa cemas berkepanjangan karena kesiapan sang ayah yang ikut menanggung beban.
   Tak seorang pun yang ingin apalagi berharap mendapat musibah.
   Tapi ketika tragedi terjadi dan tak bisa dielakkan, berbagi rasa kepada sesama harus menyebar luas dan tak hanya fokus ke satu pihak, karena simpati dan empati yang datang dari siapa saja, sangat dibutuhkan oleh semua pihak, baik dia terkenal mapun sama sekali tak dikenal.
   Sang Ayah telah memberi pelajaran tentang bagaimana bersikap bijak.
   Sekiranya pelajaran berharga ini diserap oleh mereka yang peduli pada sesama, tentu tak ada bingkai yang layak diberi label, mereka tak perlu diperhatikan. Tapi kalau semua pihak sepakat untuk menyatakan, mereka jangan dilupakan, semua akan merasakan betapa indahnya berbagai rasa, berbagi simpati dan empati untuk sesama anak bangsa.

0 komentar:

Post a Comment