oleh : Oesman
SAYA tak pernah berpikir bakalan terkecoh, karena rekan saya yang mengajak berlibur ke kampung halamannya, dengan sangat serius mengatakan, " Setiap kali melihat rumah saya, para tetangga di kampung pasti bilang rumahku mewah. Jadi, saya yakin kamu bakalan betah, sebab panoramanya indah dan tiap pagi kita bisa mendaki gunung untuk menikmati udara segar yang tak pernah kita dapatkan di Jakarta "
Saat itu, jika saya menyatakan setuju dan siap berangkat ke kampung rekan saya, bukan karena dia mengatakan rumahnya mewah.Tapi, informnasi udara segar dan hembusan angin yang sejuk saat mendaki gunung, membuat saya tak ragu lagi untuk menyetujui ajakannya.
Dan, setiba di sana, meski saya ikut bukan karena rumah rekan saya mewah, tapi saya cukup kaget. Sebab, sampai masuk ke rumahnya saya tak melihat kemewahan apapun. Malah, rumah teman saya biasa saja. Lebih menonjolkan kesan sederhana.
" Saya tak menyangka kalau kamu ahli memperdaya," kata saya, saat kami rilek untuk meluruskan kaki dan pinggang yang terasa pegal, sembari menikmati teh manis panas dan singkong rebus
" Memangnya sejak kapan kamu mengatahui saya ahli memperdaya?" Rekan saya heran
"Kemarin.. kamu bilang orang orang di sini mengenalmu sebagai pemilik rumah mewah. Nyatanya, rumah kamu biasa saja dan saya melihat, di sekitar sini tak satu pun ada rumah mewah," ujar saya
Teman saya nyaris tersedak teh manis, karena ia terbahak bahak.
"Mehong... Mehong... di sini justeru banyak rumah mewah. Kalau kamu nggak melihat, berarti ada yang salah pada penglihatan atau hati kamu"
Busyet ! Siapa yang nggak kaget jika rekan saya malah berkata seperti itu.Tapi, untung saja, sebelum saya menyahut, rekan saya sudah kembali bersuara.
" Friend... melihat itu ada dua cara. Pertama dengan kedua mata telanjang, sedangkan yang kedua dengan hati. Lihatlah, dengan seksama, puluhan rumah mewah terlihat di pelupuk mata. Hanya, artinya bukan gemerlap dan secara fisik tidak sama dengan rumah di kawasan pondok indah atau kawasan real estate. Tapi, rumahku dan rumah para tetangga memang mewah. Mepet ke sawah. Lihat, bukankan cukup lima langkah kita sudah sampai ke sawah," kata rekan saya.
" Tapi," lanjutnya.
":Kami disini bahagia, karena bisa membangun hidup dengan cara dan gaya yang sederhana. Dan kesederhanaan kami, memang sangat bervariasi. Artinya, bukan berarti tak ada yang kaya raya. Sebab, sesungguhnya banyak yang kaya raya. Hanya, kami semua sepakat, kekayaan kami bukan untuk foya foya dan bermewah mewah di jalan keburukan. Kami justeru berfoya foya di jalan kebaikan. Untuk itu kami punya rumah yatim piatu dan rumah jompo," ujarnya
" Saya kok tidak mengerti maksud kamu," kata saya sambil mengernyitkan kening.
" Saya memang yakin kamu tidak akan mengerti. Sebab, pejabat dan orang pintar yang suka korupsi saja tak akan pernah bisa mengerti mengapa kita di sini bisa hidup sederhana dan bermewah mewah dengan amal, sedangkan mereka malah bermewah mewah dengan uang hasil korupsi," ujar rekan saya.
" Lhoo.. lhooo... kok malah membawa bawa soal koruptor?" Potong saya.
"Ingat friend, meski ada KPK yang bersikap tegas dalam menindak, koruptor di Indonesia itu tak akan bisa dibasmi. Sebab, kalau pun mereka tertangkap, malah bisa hidup lebih enak. Di penjara, mereka bisa menyulap ruangan menjadi tempat yang mewah. Di pengadilan, mereka seperti tak bersalah karena para hakim lebih suka memvonis lebih ringan dari tuntutan jaksa."
"Kau tahu mengapa para hakim di pengadilan tipikor seperti sepakat dengan rekan rekannya untuk memvonis para koruptor dengan hukuman ringan?" tanya rekan saya.
Saya langsung menggeleng, karena merasa tidak tahu mengapa bisa seperti itu.
"Karena mereka tidak bisa hidup sederhana dan kepinginnya hidup mewah," kata teman saya.
"Padahal, hidup sederhana itu indah, ya?" ujar saya.
Teman saya tak menyahut. ia malah buru buru ke dapur dan tak lama telah kembali dengan sepiring singkong rebus yang baru. Rupanya, teman saya lebih tahu kalau rebus singkong adalah makanan nikmat yang paling saya sukai, dan saya selalu menikmati dengan cara sederhana. yaitu, selalu bersyukur karena doyan dengan singkong dan makanan tradisional khas Indonesia.
Saya yakin, kalau saya suka singkong rebus dan makanan asli Indonesia, Jokowi yang setelah jadi pejabat malah bisa lebih tampil sederhana, juga pecinta singkong rebus. Selain itu, kelihatannya juga suka mengabdi untuk rakyat. Ah, kalau saja di samping saya ada pak Jokowi dan sama sama menikmati singkong rebus, beliau pasti terobsesi untuk membudi-dayakan singkong dan mendorong para petani menanam singkong untuk dieksport ke mancanegara
0 komentar:
Post a Comment