oleh : Oesman
BOHONG kalau ada orang yang nggak mau punya mobil ? Makin dusta kalau lantas bilang, selain nggak mau punya mobil juga nggak mau punya rumah mewah, dan aneka barang yang serba mewah. Kok bisa disebut bohong, sih ?
Soalnya, setiap mahluk sosial punya keinginan. Jadi, dapat dipastikan, nggak ada orang yang males punya barang yang serba mewah. Cuma.... orang yang berakal sehat, tentu saja eling, ngeh, siapa dirinya dan bagaimana kondisi keuangannya.
Buat yang dokunya serba melimpah, jangan kata mobil murah, mobil yang harganya milyaran juga dibilang nggak mahal, kok?? Bisa begitu, meski harganya sepuluh milyar tetap dibilang murah lantaran dia bisa beli. Malah, bisa kasih mobil seharga sepuluh milyar buat anak kesayangannya yang menginjak usia 17 dan diberi sebagai kado untuk hadiah ulang tahunnya.
Tapi kalau yang dokunya pas pasan atawa yang dapat uang sepulang kerja dan sesampai di rumah langsung habis buat belanja kebutuhan rumah tangga, harga ayam potong yang harganya naik, malah dibilang sangat mahal dan akhirnya lebih hepi makan sama ikan asin, karena yang bisa dibeli sebatas ikan asin. Cuma, kalau tetap bersyukur, ikan asin yang dibeli dari duit halal, tetap dan malah mendatangkan berkah.
Kalau soal harga, baru layak dibilang murah, kalau semua orang bisa beli. Jadi, jangankan mobil, kalau beras dan susu buat anak aja nggak kebeli, untuk dua harga jenis barang ini, tentu saja dianggap mahal. Sebab, seperti yang judul lagu yang dinyanyikan Iwan Fals, yang dalam satu liriknya berbunyi :: BBM naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar omong soal subsidi, banyak bayi yang kurang gizi
Makanya, Pak Belalang malah ngakak, waktu anak bungsunya yang kalau ke sekolah naik angkot, minta dibelikan mobil. Sebab, kata anak pak Belalang, ayahnya harus beli mobil karena harganya murah seperti yang dia lihat di televisi,yang memberitakan pemerintah akan meluncurkan mobil murah untuk rakyat
Pak BELALANG, terpaksa nanggapin dengan senyum, lantaran dia tidak tahu, harga mobil murah itu untuk siapa? Kalau untuk rakyat Indonesia, rakyat yang mana? Sebab, Pak Belalang merasa tak bisa beli. Buktinya, dia sering kelabakan saat Idul Fitri, Idul Adha, atau Natal dan Tahun Baru. Sebab, saat datang hari besar yang mestinya membuat rakyat riang gembira, harga harga kebutuhan pokok justeru dibiairkan naik seenaknya.
Sepertinya,pemerintah merasa tak punya kewajiban untuk mengontrol harga dan tak punya kewajiban untuk mendengarkan keluhan orang miskin, yang kesulitan membeli sembilan bahan pokok, karena para pedagang - di saat hari besar tiba, menaikkan harga seenaknya. Alasannya pun, asal ngejeblak. Sebab, tujuannya hanya satu, menaikkan harga seenak hatinya agar bisa meraup untung besar karena di hari besar, jumlah permintaan naik seribu prosen sedangkan suplai katanya kurang.
" Nak... kamu harus yakin bahwa naik angkot lebih sesuai dengan kondisi keuangan ayah, timbang beli mobil kalau pun harganya cuma lima puluh juta, untuk orang seperti kita harganya tetap mahal," kata pak Belalang pada anaknya yang kepengen banget punya mobil agar bisa lebih mudah pergi ke sekolah
"Tapi ayah," kata anaknya. " Kata pejabat yang diberitakan di televisi, harga mobil itu murah"
Meski pak Belalang harus berpikir keras agar anaknya mengerti bahwa bagi mereka mobil yang disebut sebut sang mentero justeru sangat mahal, beliau bisa juga memberi pengertian dan anaknya memaklumi kerena sang anak sadar, bahwa orangtuanya tak akan bisa beli, karena untuk membeli kebutuhan pokok saja, kembang kempis karena jika sudah naik, tak pernah turun lagi dan dilain kesempatan harganya malah makin melambung ke langit tinggi.
"Jadi,"ujar pak Belalang. " Kalah pak menteri bilang harga kebutuhan pokok harus turun 50 prosen agar rakyat tidak kesulitan membeli beras, minyak goreng dan semua kebutuhan pokok, baru kita bisa bilang, itu namanya baru murah"
"Ooooooo... gitu, yaa, pak. Wah... mungkin waktu bilang mau meluncurkan mobil murah, pak menteri lupa kalau di negeri kita masih banyak orang miskin dan koruptor, yaa,pak " kata anak pak Belalang
Pak Belalang hanya mengangguk sembari melempar senyumnya
0 komentar:
Post a Comment