oleh : Oesman
PAK BELALANG gak pernah kepingin jadi sosok populer. Menurut dia, jika dirinya terkenal bukan hanya merepotkan. Tapi, berat menanggung beban moral. Sebab, kalau dia mengatakan ayo atau mari kita beramal tapi jika diri sendiri tak beramal, selain bakal ditertawakan orang juga menanggung beban dosa karena telah dusta dan siapapun yang berkata tapi mengingkari janjinya, juga disebut munafik.
Merasa lebih aman jadi manusia biasa dan jauh dari popularitas, membuat pak Belalang merasa bebas, geraknya pun tak terbatas, jika mau berbuat baik berarti perbuatannya meningkatkan kualitas dan jika dirinya khilaf - salah tindakan, tidak jadi sorotan.
Pertimbangan itulah yang membuat pak Belalang memilih area sunyi dari publikasi timbang area ramai publikasi. Dan, yang kemudian dirasakan oleh pak Belalang adalah damai dan tenang. Pak Belalang merasa bahagia, karena saat berlimpah rezeki dan digunakan untuk berbagi, tak ada hawa nafsu yang mendorong dirinya untuk mengundang wartawan agar kegiatan amalnya diliput dan dipublikasikan. Juga tak ada hasrat untuk memanggil pengurus mesjid agar mereka mengumumkan bahwa pak Belalang baru saja atau tengah membagikan sembako untuk orang orang miskin.
Makanya, saat seorang rekannya datang dan membujuk pak Belalang agar ikutan konvesi untuk Capres mendatang, pak Belalang malah tertawa terhabak habak alias terbahak bahak. Dan, inilah tawa pertama pak Belalang yang sampai ke tingkat terbahak bahak. Sebelumnya, bukan tak pernah tertawa tapi tawa pak Belalang, hanya sebatas terbihik bihik. Hanya kedengeran oleh sekelompok cicak
. Rekan pak Belalang yang merasa punya niat baik, sudah barang tentu sangat merasa tersungging. Sebab, selain niatnya baik dia juga sangat serius mengajak pak Belalang ikutan konvensi capres karena sebagai Wakil Ketua Partai Ngedongkrak Nasib Rakyat Melarat, dia kepingin sosok seperti pak Belalang tampil sebagai pemimpin Indonesia masa mendatang.
"Bukankah banyak sosok lain yang lebih pantas dan kredebilitasnya sudah diakuibanyak orang? Kalau saya? Maaf, mimpi jadi Lurah saja nolak. Bukan nggak mau mengabdi untuk rakyat, tapi, jalan untuk mengabdi, menurut saya, sangat banyak. Jadi, saya lebih ingin mengabdi menurut cara saya." Ujar pak Belalang, yang terpaksa menjelaskan mengapa dirinya menolak
"Tapi menurut saya, sampeyan adalah sosok yang sangat kredibel. Saya yakin, sampeyan mampu memimpin dan mensejahterakan rakyat. Sebab, dari banyak calon yang sudah mendaftar, saya belum melihat sosok yang kredibilitas dan dasar ikhlas mengabdinya seperti sampeyan. Percayalah, kebanyakan hanya bertujuan untuk pribadi, kelompok dan golongannya saja," jelas rekan pak Belalang yang karena sangat berharap berusaha membujuk sekuat tenaga agar pak Belalang bersedia memenuhi ajakannya
Akhirnya, Pak Belalang bukan hanya tetap menolak ajakan rekannya. Tapi malah menyarankan agar sang rekan merapat ke Jokowi. Pak Belalang yakin, saat ini, sosok Jokowi termasuk salah seorang pemimpin yang layak dijadikan calon presiden. Selain hasil survey lebih sering menempatkan namanya di urutan paling atas, beliau juga sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan kinerja serta kesederhanaan sosoknya, langsung menjelaskan jika Jokowi merasa berasal dari rakyat dan hanya ingin merakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat.
"Jadi, sampeyan nggak usah bersusah payah membujuk saya. Oke ?" Kata Pak Belalang
Rekannya yang sebenarnya sangat kecewa hanya menggerutu.
0 komentar:
Post a Comment