Saturday, September 7, 2013

FENOMENA JOKOWI

oleh : Oesman 




       PEMILU (Pemilihan Umum) yang dilaksanakan lima tahun sekali sesungguhnya bukan sekedar prosesi dari pesta demokrasi untuk memilih Caleg dan Capres. Hajat besar besaran yang menghabiskan banyak biaya (mencapai trilyunan) ini, sesungguhnya menjadi kawah harapan rakyat Indonesia, yang tak sebatas ingin hidup tentram dan damai. Tapi juga ingin sejahtera dan menjadi bagian rakyat dunia yang memiliki harga diri, derajat dan kemampuan bersaing dengan negara lain di dunia, baik dari aspek ekonomi maupun aspek kehidupan lainnya.

      Dan tak lama lagi, Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi yang dilaksanakan tiap lima tahun dan selama ini, meski pelaksanaannya tak terlalu banyak masalah, namun implementasi pasca terpilihnya Wakil Rakyat dan Presiden (beserta wakilnya) sangat tidak sesuai dengan berbagai janji yang selama masa kampanye digembar-gemborkan oleh Caleg dan Capres serta Cawapres.
      Sedemikian sulitkah mewujudkan impian rakyat, sehingga siapapun Presiden dan Anggota DPR, malah cenderung mengecewakan atau membuyarkan harapan rakyat. Membludaknya kasus korupsi, misalnya, sampai saat ini tak juga reda dan rakyat menjadi semakin prihatin karena makin banyak anggota DPR yang mestinya tetap terhormat namun dalam perjalanan pelaksanaan amanah, malah jadi penghuni penjara. Padahal, apa yang dilakukan saat kampanye, sangat pandai menghembuskan angin segar namun dalam aplikasinya justeru mengganti amanah jadi aminah
      Amanah yang mestinya dilaksanakan dengan benar, baik dan banyak menaburkan manfaat untuk rakyat malah diganti dengan aminah, karena di perjalanan tugasnya lebih tertarik untuk memperkaya diri sendiri dan mementingkan kepentingan golongan, timbang membela dan peduli pada rakyat.
      Tak heran jika pada akhirnya, kekecewaan rakyat terhadap pemimpin sampai ke tahap yang paling menjenuhkan. Sebab, semakin rakyat menaruh harapan yang kemudian didapat dan dirasakan hanya kekecewaan. Selalu demikian karena para pemimpin tak memiliki kemampuan melaksanakan amanah akibat beban tanggung jawab yang diberikan oleh rakyat, dirubah menjadi aminah demi kepentingan pribadi dan golongannya.
      Itu sebabnya rakyat yang terlanjur kecewa sangat merindukan sosok pemimpin yang jiwa patriot dalam membangun dan mensejahterakan bangsa, tak hanya meletup letup di saat masa kampanye. Tapi, letupannya justeru lebih dahsyat setelah berhasil meraih simpati dan empati massa.
      Pemimpin yang seperti ini - selama era reformasi sama sekali tak kelihatan, meski sudah beberapa orang Presiden yang duduk di tampuk kekuasaan dan ribuan orang yang mengubah status dirinya menjadi anggota dewan yang terhormat.
      Jadi, sangatlah wajar jika pada akhirnya, yang kemudian muncul adalah fenomena Jokowi.
      Sosok Gubernur DKI Jakarta yang namanya mulai memfenomena sejak menjadi Walikota Solo, semakin diperbincangkan karena gaya kepemimpinannya dianggap mewakili harapan rakyat. Dan Jokowi yang sepertinya biasa dengan kesederhanaan, justeru disukai oleh masyarakat karena dengan tampilannya Jokowi tak hanya memperlihatkan betapa sederhana itu penting dan penuh dengan keindahan. Tapi, sekaligus menjadi barometer yang membuat pemimpin bisa mendekat dengan rakyat dan rakyat mengapresiasi kesederhanaan Jokowi sebagai suatu hal yang memudahkannya untuk selalu dekat dengan rakyat.
      Jika sejak beberapa bulan silam nama Jokowi yang terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta melesat sebagai Calon Presiden terkuat diantara sekian banyak nama yang telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden RI priode 2014 - 2019, bukanlah perkara kebetulan. Artinya, namanya memfenomena bukan karena adanya upaya mempopulerkan, baik dengan cara rekayasa atau membangun imej. Sebab, tak ada kelompok yang secara terang terangkan mengumumkan keberadaannya sebagai tim yang ingin menggolkan Jokowi sebagai Presiden.
      Kenyataan ini, mestinya diapresiasi dengan sikap paling positif. Pihak pihak yang merasa tersaing, mestinya tak perlu takut atau kuatir. Sebab, mencuatnya nama Jokowi sebagai Capres justeru harus dijadikan dasar yang paling kuat untuk melakukan berbagai upaya, sehingga masyarakat yang semula gandrung pada Jokowi, juga terpikat untuk menggandrungi nama lain, karena yang bersangkutan juga mampu membangun karakter positif dan kharisma yang kuat dan akhirnya rakyat mengakui bahwa calon lain pun layak dijadikan sosok pemimpin yang jika terpilih kelak, justeru lebih berhasil dari Jokowi, baik dalam kinerja maupun dalam berbagai hal lainnya.
      Sesungguhnya, yang diinginkan rakyat bukan Jokowi. Tapi, sosok pemimpin yang karena ikhlas dalam melaksanakan amanah, dirinya mampu memenuhi semua keinginan rakyat yang rasional. Hanya, saat ini, rakyat melihat bahwa sosok yang sangat diharapkan terlebih dahulu melekat di Joko Widodo alias Jokowi, yang dari dan masih menjabat sebagai Walikota Solo justeru berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan setelah menjadi orang nomor satu di Provinsi DKI Jakarta, bersama wakilnya dia bekerja tidak dari belakang meja. Tapi langsung ke sumber masalah, sehingga tahu apa yang terjadi dan paham bagaimana cara mengatasi.
      Tipikal pemimpin yang malas menerima laporan yang isinya Asal Bapak Senang, jadi mengatahui mana yang riil dan harus diprioritaskan sehingga masalah tidak tertunda atau menumpuk, tapi diselesaikan dengan kebijakan yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat.
     Dan, kinerja Jokowi, sangat diapresiasi oleh masyarakat karena Jokowi bukan hanya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi juga berusaha dengan sebaik baiknya agar amanah yang diberikan kepadanya tidak berubah jadi aminah.

Pasang Kode Iklan Anda Disini

alt/text gambar 

0 komentar:

Post a Comment