Wednesday, April 30, 2014

PANTUN BUDAYA PUNGLI

Buat apa sih pakai bilang merasa bimBANG
Hidup ini, kan nyata dan bukan barangkaLI
Ngapain pak Gubernur ke jembatan timBANG
Buat membuktikan apakah di sana ada pungLI

Padahal waktu sidak tak pakai kemeja meRAH
Tapi kenakan ke meja putih dan tampil gaGAH
Itu sebabnya beliau berkata dengan maRAH
Sebab, di sana praktik pungli tidak diceGAH

Sidaknya tak ada hubungan dengan catatan si BOY
Sebab, pelaksanaan tugas juga perlu ke lapaNGAN
Marahnya bukan lantaran gubernur pejabat koBOY
Tapi agar budaya pungli tidak makin berkepanjaNGAN

Jika punya rencana untuk ceburkan diri ke kaLI
Yaa.. nggak usah ngajak orang yang masih waRAS
Jika pejabat publik tak mampu berantas pungLI
Nggak usah deh bilang siap laksanakan kerja keRAS

Bisa dimaklum kalau salahnya cuma sesekaLI
Kalau selalu salah pasti sudah kehilangan aKAL
Jika jembatan timbang tersemat budaya pungLI
Pasti aparat yang bertugas bermental naKAL

SUARA DI JEMBATAN TIMBANG

BIASANYA, suara yang terdengar di tiap jembatan timbang malah terlupakan. Tak heran jika yang kemudian terdengar cuma keluhan masyarakat, sebab di setiap jembatan timbang yang muncul ke permukaan bukan pendapatan daerah yang meningkat. Tapi malah senyap lantaran truk truk yang kelebihan beban, hanya dikenakan biaya yang besarnya tak setara dengan biaya denda dan sama sekali tak tercatat apalagi disetorkan ke kas negara.

Tapi di minggu silam, suara di jembatan timbang di kawasan Batang, Jawa Tengah, bukan berasal dari mesin truk. Juga bukan berasal dari petugas yang hanya senyum setelah menerima uang dari para knek, yang diperintahkan oleh supir untuk menyerahkan biaya pungli agar para petugas cukup duduk dalam bertugas tapi tanpa harus berdiri uang dari para knek gemar mendatangi.

Tentu saja suara dari jembatan timbanf di sana, menyejukkan. Khususnya, bagi masyarakat yang sudah muak dengan kelakuan petugas yang malah gemar memungut pungli timbang melaksanakan tugas dan tulus dalam mengabdi.

Suara di jembatan timbang yang dikumandangkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ginanjar Pranowo, bukan suara seorang pejabat bergaya koboi. Tapi suara pemimpin daerah yang muak dengan kinerja aparatnya, yang menjadikan jembatan timbang sebagai sarana untuk mengumpulkan uang untuk pribadi dan bukan untuk kas daerah, yang membutuhkan biaya untuk membangun negeri.

Sang Gubernur, melihat dengan mata telanjang, para knek yang diutus sopir turun dari truk dan berlari menuju ke ruang petugas, dan setelah menyerahkan uang mulai sepuluh sampai tiga puluh ribu, kemudian kembali ke truknya untuk melanjutkan perjalanan, mengantar barang ke tempat tujuan, tanpa harus membayar denda, meski petugas tahu jika tonase barang yang diangkut melebihi batas.

Para supir lebh suka memberi pungli dan patugas pun dengan senang hati menikmati, karena jika memungut denda dan dicatat dengan rapi, uang yang dihasilkan harus di setor ke kas daerah.Sedangkan pungli yang jadi menu sehari hari, hasilnya dikumpulkan untuk dibagi tanpa melalaikan kebiasaan setor ke atasan, yang sangat sungguh sungguh dalam memberi intruksi alias merestui

Alhamulillah, Ginanjar berang. Sang Gubernur Jawa Tengah marah, karena dengan mata telanjang dia melihat dengan mata telanjang, kelakuan aparatnya yang bertindak mendzolimi diri sendiri dan begitu nikmat mengantongi uang pungli yang kemudian dinikmati untuk menghidupi anak isteri. 

Wajar jika Ginanjar marah, dan masyarakat justeru mendukung kemarahan sang Gubernur karena marah menyaksikan kedzoliman atau kecurangan yang dilakukan aparatnya, adalah marah terhadap perbuatan yang dilarang karena melanggar etika sebagai pegawai negeri dan melanggar undang undang, karena tugas PNS yang sudah digaji, adalah mengabdi dan bukan membudayakan pungli.

Tentu saja masyarakat mendukung tindakan sang gubernur Jawa Tengah, karena jika pungli tetap dibiarkan dan terus merajalela, hanya menghasilkan bencana karena moralitas aparat yang pasti harus disebut oknum, tak berpikir kalau jalan cepat rusak tak lain karena kebanyakan truk pengangkut barang kelebihan muatan. Dan gebrakan yang dilakukan Ginanjar bukan gebrakan pejabat koboi, tapi gebrakan pejabat yang ingin membangun aparat yang bersih dan berwibawa. Aparat yang bekrja demi rakyat.
Bukan aparat yang malah bangga menikmati hasil pungli. 

Tuesday, April 22, 2014

SUARA EDUKASI

oleh : Oesman Doblankta

KASUS yang terjadi di Jakarta Internasional School (JIS) bukan kasus pelecehan seksual tapi kasus kejahatan seksual. Begitu yang disimpulkan sehingga Jakarta Lawyer Club (JLC) yang pada  (22/4) membahas peristiwa yang terjadi di JIS, mencantumkan tajuk KEJAHATAN SEKSUAL DI JIS. 

Semua sepakat bahwa kejadian itu lebih layak disebut kejahatan seksual karena ada korban yang harus menanggung akibat dari sebuah kejahatan yang dilakukan oleh dua orang tersangka yang tak lain adalah karyawan yang bekerja di JIS 

Kasus ini dijadikan momen bagi Kemendikbud untuk introspeksi diri dan memperbaiki kinerjanya sehingga di masa yang akan datang, tak ada lagi sekolah berskala internasioanl yang beroperasi di Indonesia tanpamengantongi izin. Dan, JIS dinyatakan tak punya izin karena izin yang ada hanya untuk tingkat SD, SMP dan SMU. Sedangkan untuk TK dan PAUD tidak berizin.

Padahal, sudah berjalan tahunan dan jika itu berjalan dengan lancar serta aman, selain karena ada kenakalan dari pihak JIS yang berani melanggar peraturan di Indonesia, juga nampak jelas kelalaian Kemendikbud yang tidak memantau dan mengawasi JIS, entah karena terlebih dahulu percaya kalau sekolah yang berskala internaisonal itu hebat dan baik, atau karena selama ini ada saling pengertian yang mendalam dari pihak yang mestinya dengan ketat mengawasi dengan pihak yang wajib diawasi

Suara pendidikan di Indonesia yang selama ini tidak pernah jelas semakin ketahuan ketidak jelasannya setelah jatuh korban, dan apa yang terjadi di JIS membuat semua pihak menyadari, betapa pendidikan berskala interasioanal sesungguhnya tak beda dengan yang nasional.Bahkan, dengan yang lokal. Sebab, sekolah sebagai rumah kedua bagi anak anak, tak pernah menjadi arsitektur jiwa yang mampu membangun indahnya moralitas yang mestinya dimiliki oleh anak anak bangsa

Dari Jakarta Lawyers Club yang tampil khusus membahas kasus yang terjadi di JIS, juga disebutkan kalau pihak kepolisian harus bekerja cepat dan mengungkap kasus ini sampai ke akarnya. Sebab, patut diduga kalau ini bukan yang pertama kali, dan juga sangat mungkin kalau bukan cuma dua tersangka yang sudah ditangkap saja sebagai pelakunya

Jika memang Kemendikbud menganggap JIS telah sengaja melanggapat  peraturan karena berani membuka Taman Kanak Kanak tanpa izin operasional, tak keliru jika mencabut seluruh izin yang sudah dikeluarkan, mengingat keinternasionalan JIS malah memperlihatkan bahwa sekolah mahal bukan tempat ideal yang dapat menyelamatkan anak anak dari kejahatan seksual

Thursday, April 17, 2014

SUARA PARA PENIPU

SUARA kehidupan itu tak saja layak disebut sangat beraneka. Tapi juga sangat jamak jika dikatakan beraneka ragam. Meski begitu, teridentiifikasi menjadi tiga bagian. Pertama, disebut suara kebenaran, kedua adalah suara kemunafikan dan ketiga adalah suara keraguan

Dari ketiga jenis suara khas dalam kehidupan, yang lebih banyak dipergunakan adalah suara kemunafikan. Suara ini, tak saja disukai oleh banyak orang tapi juga kerap kali dan bahkan selalu dimanfaatkan. Dan yang paling kentara di saat musim kampanye tiba.

Jelang pemilu atau pilkada, kehadiran suara kemunafikan sangat mendominasi. Anehnya, meski diketahui bahwa yang disuarakan hanya sebatas kepalsuan tapi begitu banyak yang justeru berkenan mendengarkan. Bahkan, tak hanya sebatas berkenan mendengarkan. Tapi juga sampai berkenan mempercayai bahwa yang disuarakan bakal diwujud-nyatakan.

Namun, mereka yang semula berkenan mendengar dan meyakini, pada akhirnya menyadari bahwa suara yang pernah didengar begitu indah tak lebih dari sebuah kemunafikan yang nyata. Sebab, setelahnya malah sama sekali tak terbukti. Sebab, suara yang ketika kampanye diucapkan dengan lantang, dengan intonasi yang beraturan dan dengan irama yang menghanyutkan, tak satu pun yang direaliasasi.

Kalau pun kemudian terbukti, bukan realisasi dari suara yang pernah diucapkan agar rakyat memilih dirinya jadi petinggi. Tapi, bukti adanya kenyataan mereka ditangkap KPK karena diduga telah melakukan tindak pidana korupsi.

Suara para penipu tak saja ramai terdengar di jelang pemilu atawa pilkada. Tapi,juga kerap terekam oleh jutaan telinga, yang berangan angan mendapat rezeki nomplok. Dan, tanpa disadari akhirnya suara itu datang melalui seluler. Karena tak hanya santun dalam mengurai kata jadi kalimat, telinga dari orang orang yang berangan angan dapat rezeki nomplok, tak saja terbuai dan sangat menikmati indahnya informasi yang disampaikan. Tapi, sekaligus yakin bahwa yang disampaikan sesuai dengan yang diinginkan.

Dan, ketika akhirnya sampai ke kalimat terindah, Anda berhak atas hadiah bernilai puluhan juta rupiah atau anda menjadi pemenang undian berhadiah mobil berharga ratusan juta rupiah, info itu tak lagi dicerna apakah benar atau sebaliknya. Sebab, suara dengan tutur kata indah yang menyampaikan informasi yang isinya memang sedang dalam catatan angan angan, maka semua informasi yang mengandung intruksi agar segera mentransfer uang sekian juta untuk persyaratan, tanpa pikir panjang permintaan para penipu secepatnya dipenuhi.

Apa yang kemudian terjadi setelah dengan bergegas mentransfer sejumlah uang ke sebuah rekening atas nama orang yang hanya dikenal suaranya tapi sama sekali tak pernah melihat sosoknya?

Tentu saja rasa menyesal yang sangat mendalam, karena baru sadar kalau dirinya baru saja kena tipu alias baru saja jadi korban penipuan.

Jika tak pernah ingin menjadi korban penipuan, abaikan suara yang terdengar sangat indah dari orang yang sama sekali tak dikenal. Tentu saja tak sebatas suara indah yang menjanjikan hadiah. Tapi juga suara indah yang seolah olah tampil sebagai dewa penolong, karena tanpa diminta telah menghubungi dan menginformasikan bahwa salah satu keluarga kita berada di rumah sakit dan demi keselamatan harus segera mentransfer sejumlah uang untuk biaya rumah sakit.

Pun suara yang menyebutkan anak tertangkap polisi karena terlibat narkoba, dan orang di sebrang sana lantas mengintruksikan agar segera mentransfer sejumlah uang agar sang anak segera dibebaskan.

Terhadap suara suara indah, penuh pesona yang tiba tiba datang lewat seluler atau telepon rumah, sebaiknya tidak perlu digubris, karena itulah suara para penipu yang ingin memperdaya.

Monday, April 14, 2014

TIMBANG KALAH KOK STRESS

PEMILU yang berlangsung 9 April silam memang tak menghasilkan pemenang dengan perolehan suara yang membuat partai leluasa melenggang ke Pilpres tanpa menggandeng partner dari partai lain. Tak heran jika lobi lobi politik mulai digencarkan dan masing masing partai mencari partner agar perolehan suara untuk pencapresan terpenuhi.

Lobi politik yang dalam bahasa awan disebut politik celamitan, memang membuat elite partai tak malu malu kucing apalagi malu malu sapi, untuk menggaet partner. Sebab, Pilpres akan menjadi pertaruhan apakah partai yang sebelum pileg digadang gadang bakal sukses meraih 30 prosen suara tapi nyatanya yang tertinggi hanya 19 persenan (PDI-P), bisa meraih kekusaan atau setidaknya terlibat dalam kekuasaan dan sekaligus kebagian jabatan, atau jadi oposisi.

Memang membuat rakyat harus terharu. Sebab, pasca Pileg para politikus lebih sibuk memikirkan nasib partainya timbang nasib rakyatnya  Dan perjalanan mereka bersama aktivitas politiknya, lebih cenderung membiarkan rakyat memikirkan nasib dirinya karena dalam kondisi yang tercipta dari Pileg, para politikus lebih siap berjibaku demi kepentingan partai timbang yang lain

Tak heran jika mereka pun menelantarkan para calegnya yang stress karena gagal meraih kursi
Dan caleg stress yang sudah mengumumkan kestresannya, tentu saja cukup banyak. Di Sulawesi Selatan, misalnya, sang celeg stress langsung mengusir seorang yang membangun rumah di atas tanah milik sang caleg Padahal, sebelumnya malah berinisiatif mengijinkan agar konstituennya membangun rumah di tanah miliknya. Tapi, ketika tahu dan yakin dirinya tak berhasil alias gagal menjadi anggota dewan yang terhormat, spontan mengambil keputusan agar yang bersangkutan segera membongkar rumahnya.

Busyet..... Memang aneh kelakuan caleg yang ikut Pileg tanpa mempersiapkan mental yang paripurna. Tak heran, jika sang caleg jadi stress karena mimpinya mengikuti rapat paripurna di gedung dewan, tak bakalan kesampaian.

Dan, lain halnya dengan kisah yang terjadi di daerah Serang, Banten. Konon, lewat tim suksesnya yang diperintahkan untuk membagi amplop berisi uang lewat gerilya serangan fajar, sang Caleg yang hanya yakin bakal menang tapi tak berhitung bisa juga kalah, kembali mengintruksikan tim suksesnya untuk meminta kembali peluru berupa amplop berisi uang, namun dia tidak minta agar penerima amplop yang dianggap tidak loyal, mengembalikannya juga di waktu fajar.

Caleg stress ada di semua wilayah dan begitulah gambaran perpolitikan di Indonesia yang rupanya hanya lebih siap memenangkan pemilihan tapi sangat tidak siap menghadapi apalagi menerima kekalahan. Sungguh, mereka tidak punya rasa malu untuk meminta kembali uang atau barang yang telah diberikan, karena yang diinginkan kemenangan dan bukan kekalahan.

Para caleg stress juga tak punya keikhlasan dalam berpolitik. Sehingga yang dikonsep hanya cara menang dan sama sekali tidak membuat konsep bagaimana kalau faktanya kalah. Tak heran jika dengan nyinyir masyarakat berucap : " Timbang kalah kok stress "

Mengapa? Karena kalau mau stress., yaa pas mengetahui dirinya menang. Saat itu, jika stress sangat hebat. Sebab, stressnya pasti bakal merasa malu jika tidak bisa atau lalai melaksanakan tugas untuk berperan aktif dalam mensejahterakan masyarakat.

Monday, April 7, 2014

MENENTUKAN NASIB CALEG

oleh : Oesman Doblank

TAHUKAH anda siapa yang saat ini sedang ketir ketir dan rajin berdoa tapi doanya bukan memohon agar rakyat disejahterakan tapi meminta agar rakyat mencoblos gambarnya karena ingin status calegnya berubah menjadi anggota dewan yang terpilih.

Berarti, rakyat semakin diperhitungkan sebagai sosok yang diharapkan membantu para caleg untuk memilih dirinya. Karena rakyat dipandang sebagai sosok yang dapat menentukan nasib lewat pilihannya, tak heran jika para celeg mulai ketar ketir.Mulai deg deg plas, sebab kalau tenang jauh dari mungkin mengingat sejak masa pencalonan sampai masa kampanye berakhir, entah sudah berapa banyak biaya yang dihabiskan

Dan semua caleg rela menghabiskan biaya yang jumlahnya mulai dari ratusan jutabentuksampai milyaran, lantaran mereka punya keinginan dan jika terpilih secara resmi menjadi anggota dewan, yang kemudian secara resmi dipikirkan bukan menepati janji untuk mensejahterakan. Tapi, bagaimana bisa secepatnya mengembalikan uang yang sudah dihabiskan. Mengingat, uang yang digunakan bisa saja dari hasil ngutang dan harus segera dikemalikan, baik dalam bentuk dana segar maupun dalam bentuk proyek bernilai milyaran

Konpensasi mengganti atau membayar uang pinjaman lewat proyek yang diperjuangkan setelah jadi anggota dewan, bukan hal baru. Tapi, seperti jadi aktivitas berkesinambungan. Untuk itulah, persiapan dana untuk memenangkan diri sebagai caleg, tak hanya dipersiapkan sejak proses penentuan caleg sampai akhir masa kampanye. Tapi, juga disediakan dana untuk jelang pencoblosan.

Tak heran jika dalam pemilu selalu ada aktivitas serangan fajar.

Apakah anda ingin jadi penentu nasib para caleg dengan semangat menanti kedatangan tim sukses para caleg yang sudah merancang program serangan fajar dengan kehebatan masing masing dan kekuatan dana yang sudah disiapkan, agar setelah menyerang di waktu fajar, pemilih yang mendapat serangan fajar jadi hanya fokus ke caleg yang menyodorkan amplop berisi uang dan sembako atau dalam bentuk yang lain?

Sebagai penentu nasib yang kekuatan anda dibutuhkan sekali dalam lima tahun, sebagai penentu nasib para celeg yang ingin terpilih menjadi anggota dewan, yang berhak untuk menjawab atau menentukan tentu saja setiap pemilih. Akan mencoblos sesuai hati nurani atau sesuai dengan jumlah dana yang diterima saat di serang dalam operasi serangan fajar, bergantung pada kepribadian setiap pemilih yang 9 April akan berada di dalam bilik suara, dan sedikit repot karena harus memilih Partai, DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI atau DPD

Semua tentu saja terserah anda. Yang jelas di 9 April 2014, kita semua ditetapkan sebagai pemilih yang menentukan nasib para caleg, yang siap melupakan janjinya setelah terpilih dan siap menjadi penghuni rumah sakit jiwa, karena tak kuat menanggung beban mental setelah mengetahui dirinya tak dipilih oleh rakyat