Monday, April 14, 2014

TIMBANG KALAH KOK STRESS

PEMILU yang berlangsung 9 April silam memang tak menghasilkan pemenang dengan perolehan suara yang membuat partai leluasa melenggang ke Pilpres tanpa menggandeng partner dari partai lain. Tak heran jika lobi lobi politik mulai digencarkan dan masing masing partai mencari partner agar perolehan suara untuk pencapresan terpenuhi.

Lobi politik yang dalam bahasa awan disebut politik celamitan, memang membuat elite partai tak malu malu kucing apalagi malu malu sapi, untuk menggaet partner. Sebab, Pilpres akan menjadi pertaruhan apakah partai yang sebelum pileg digadang gadang bakal sukses meraih 30 prosen suara tapi nyatanya yang tertinggi hanya 19 persenan (PDI-P), bisa meraih kekusaan atau setidaknya terlibat dalam kekuasaan dan sekaligus kebagian jabatan, atau jadi oposisi.

Memang membuat rakyat harus terharu. Sebab, pasca Pileg para politikus lebih sibuk memikirkan nasib partainya timbang nasib rakyatnya  Dan perjalanan mereka bersama aktivitas politiknya, lebih cenderung membiarkan rakyat memikirkan nasib dirinya karena dalam kondisi yang tercipta dari Pileg, para politikus lebih siap berjibaku demi kepentingan partai timbang yang lain

Tak heran jika mereka pun menelantarkan para calegnya yang stress karena gagal meraih kursi
Dan caleg stress yang sudah mengumumkan kestresannya, tentu saja cukup banyak. Di Sulawesi Selatan, misalnya, sang celeg stress langsung mengusir seorang yang membangun rumah di atas tanah milik sang caleg Padahal, sebelumnya malah berinisiatif mengijinkan agar konstituennya membangun rumah di tanah miliknya. Tapi, ketika tahu dan yakin dirinya tak berhasil alias gagal menjadi anggota dewan yang terhormat, spontan mengambil keputusan agar yang bersangkutan segera membongkar rumahnya.

Busyet..... Memang aneh kelakuan caleg yang ikut Pileg tanpa mempersiapkan mental yang paripurna. Tak heran, jika sang caleg jadi stress karena mimpinya mengikuti rapat paripurna di gedung dewan, tak bakalan kesampaian.

Dan, lain halnya dengan kisah yang terjadi di daerah Serang, Banten. Konon, lewat tim suksesnya yang diperintahkan untuk membagi amplop berisi uang lewat gerilya serangan fajar, sang Caleg yang hanya yakin bakal menang tapi tak berhitung bisa juga kalah, kembali mengintruksikan tim suksesnya untuk meminta kembali peluru berupa amplop berisi uang, namun dia tidak minta agar penerima amplop yang dianggap tidak loyal, mengembalikannya juga di waktu fajar.

Caleg stress ada di semua wilayah dan begitulah gambaran perpolitikan di Indonesia yang rupanya hanya lebih siap memenangkan pemilihan tapi sangat tidak siap menghadapi apalagi menerima kekalahan. Sungguh, mereka tidak punya rasa malu untuk meminta kembali uang atau barang yang telah diberikan, karena yang diinginkan kemenangan dan bukan kekalahan.

Para caleg stress juga tak punya keikhlasan dalam berpolitik. Sehingga yang dikonsep hanya cara menang dan sama sekali tidak membuat konsep bagaimana kalau faktanya kalah. Tak heran jika dengan nyinyir masyarakat berucap : " Timbang kalah kok stress "

Mengapa? Karena kalau mau stress., yaa pas mengetahui dirinya menang. Saat itu, jika stress sangat hebat. Sebab, stressnya pasti bakal merasa malu jika tidak bisa atau lalai melaksanakan tugas untuk berperan aktif dalam mensejahterakan masyarakat.

0 komentar:

Post a Comment