oleh : Oesman
Ketika ABU LUWES menyampaikan niatnya, kedua orangtuanya kontan tercengang. Sebab, mereka sudah menyiapkan program mengantar Abu Luwes ke rumah kakek untuk menikmati liburan. Untung saja, ayah dan ibu Luwes bukanlah tipikal orangtua yang tak menggubris hasrat anak. Karena mereka menggubris, setelah menarik nafas, baik sang ayah maupun sang ibu, dengan cukup hati hati bertanya kepada Abu Luwes, untuk apa dia merubah acara liburan ke rumah nenek, dan apa untungnya jika dia memanfaatkan waktu liburnya untuk bergabung dengan rekan rekannya yang ingin menjadi suksrelawan ke daerah bencana
Abu Luwes dengan sikap tenang menjelaskan, dia tertarik untuk menjadi anggota sukarelawan karena selain ingin mengetahui seperti apa duka nestapa para pengungsi banjir yang sudah berhari hari tinggal di pengungsian, dan bagaimana apresiasi mereka terhadap dirinya dan kawan kawan, yang sengaja datang dan siap menginap di tenda tenda pengungsian, dengan niat utama membantu meringankan beban para korban banjir di pengungsian, dan selama di sana Abu Luwes tak hanya siap menyumbangkan pakaian bekas layak pakai, sejumput makanan dan yang tak kalah penting adalah tenaga dan pikiran, yang siap diaplikasikan saat mereka tinggal bersama dengan para korban banjir di tenda tenda yang dijadikan untuk tinggap selama rumah mereka masih direndam air.
"Sadarkah jika yang kamu lakukan, membuat kamu tidak konsisten dengan janji dan atas apa yang akan kamu lakukan, kakek dan nenek bisa kecewa, dan mereka bisa marah karena tak suka pada cucunya yang tiba tiba berubah dari anak baik menjadi anak yang mulai berani mengingkari janji," tanya mereka.
Namun, betapa terkejutnya kedua orangtua Abu Luwes, setelah putra mereka menjelaskan, rencana ini berubah karena dirinya dan nenek sudah sepakat, dan nenek malah mendorong agar rencana Abu Luwes dilaksanakan sedangkan soal liburan atau berkunjung ke rumah nenek bisa dilakukan kapan saja.
Karena tidak percaya, sang ibu bergegas mengambil hand phone dan menghubungi ibunya. Selain untuk mengkonfirmasi apakah yang dikatakan Abu Luwes benar, sang ibunda juga ingin menanyakan ke ibunya (neneknya Abu Luwes) mengapa malah mensupport cucunya untuk menjadi sukarelawan yang dampaknya malah pergi dan menginap di lokasi pengungsian, sedangkan rencana semula liburan di rumah nenek.
Dari ujung sana, Abu Luwes jelas mendengar suara neneknya, yang malah mentertawakan anaknya dan setelah itu beliau menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh cucunya sangat baik dan karena Abu Luwes memiliki kepekaan sosial dan hasratnya yang ingin mengabdi dengan tulus, sudah barang tentu harus didukung dan bukan malah dikungkung.
"Memangnya, kamu mau punya anak yang tak memiliki kepedulian sosial? Jika mau, yaa aku akan meminta kepada cucuku untuk membatalkan niatnya. Cuma, kamu nanti jangan kecewa, jika anakmu justeru tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tidak memiliki kepekaan apapun. Dan juga jangan kaget, bila akhirnya dia memilih bergaul di lingkungan yang malah merusak masa depannya.Kamu tau, kan, apa yang bakal terjadi jika cucuku, akhirnya bergaul dengan anak anak yang suka merokok, nongkrong tidak keruan dan akhirnya akrab dengan pergaulan bebas ?"
Kedua orangtua Abu Luwes terhenyak.
Meski begitu, mereka akhirnya sepakat untuk mengijinkan putranya berangkat ke pengungsian, agar keinginan anaknya yang kepingin belajar mengabdi untuk lingkungan, berjalan dengan baik dan lancar. Malah, kedua orangtuanya sepakat untuk membekali Abu Luwes dengan aneka macam bawaan yang diwanti wanti agar sesampai di sana segera disumbangkan kepada para korban banjir yang di kemah pengungsian, memang membutuhkan uluran tangan dari siapa saja yang berjiwa dermawan
Ketika ABU LUWES menyampaikan niatnya, kedua orangtuanya kontan tercengang. Sebab, mereka sudah menyiapkan program mengantar Abu Luwes ke rumah kakek untuk menikmati liburan. Untung saja, ayah dan ibu Luwes bukanlah tipikal orangtua yang tak menggubris hasrat anak. Karena mereka menggubris, setelah menarik nafas, baik sang ayah maupun sang ibu, dengan cukup hati hati bertanya kepada Abu Luwes, untuk apa dia merubah acara liburan ke rumah nenek, dan apa untungnya jika dia memanfaatkan waktu liburnya untuk bergabung dengan rekan rekannya yang ingin menjadi suksrelawan ke daerah bencana
Abu Luwes dengan sikap tenang menjelaskan, dia tertarik untuk menjadi anggota sukarelawan karena selain ingin mengetahui seperti apa duka nestapa para pengungsi banjir yang sudah berhari hari tinggal di pengungsian, dan bagaimana apresiasi mereka terhadap dirinya dan kawan kawan, yang sengaja datang dan siap menginap di tenda tenda pengungsian, dengan niat utama membantu meringankan beban para korban banjir di pengungsian, dan selama di sana Abu Luwes tak hanya siap menyumbangkan pakaian bekas layak pakai, sejumput makanan dan yang tak kalah penting adalah tenaga dan pikiran, yang siap diaplikasikan saat mereka tinggal bersama dengan para korban banjir di tenda tenda yang dijadikan untuk tinggap selama rumah mereka masih direndam air.
"Sadarkah jika yang kamu lakukan, membuat kamu tidak konsisten dengan janji dan atas apa yang akan kamu lakukan, kakek dan nenek bisa kecewa, dan mereka bisa marah karena tak suka pada cucunya yang tiba tiba berubah dari anak baik menjadi anak yang mulai berani mengingkari janji," tanya mereka.
Namun, betapa terkejutnya kedua orangtua Abu Luwes, setelah putra mereka menjelaskan, rencana ini berubah karena dirinya dan nenek sudah sepakat, dan nenek malah mendorong agar rencana Abu Luwes dilaksanakan sedangkan soal liburan atau berkunjung ke rumah nenek bisa dilakukan kapan saja.
Karena tidak percaya, sang ibu bergegas mengambil hand phone dan menghubungi ibunya. Selain untuk mengkonfirmasi apakah yang dikatakan Abu Luwes benar, sang ibunda juga ingin menanyakan ke ibunya (neneknya Abu Luwes) mengapa malah mensupport cucunya untuk menjadi sukarelawan yang dampaknya malah pergi dan menginap di lokasi pengungsian, sedangkan rencana semula liburan di rumah nenek.
Dari ujung sana, Abu Luwes jelas mendengar suara neneknya, yang malah mentertawakan anaknya dan setelah itu beliau menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh cucunya sangat baik dan karena Abu Luwes memiliki kepekaan sosial dan hasratnya yang ingin mengabdi dengan tulus, sudah barang tentu harus didukung dan bukan malah dikungkung.
"Memangnya, kamu mau punya anak yang tak memiliki kepedulian sosial? Jika mau, yaa aku akan meminta kepada cucuku untuk membatalkan niatnya. Cuma, kamu nanti jangan kecewa, jika anakmu justeru tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tidak memiliki kepekaan apapun. Dan juga jangan kaget, bila akhirnya dia memilih bergaul di lingkungan yang malah merusak masa depannya.Kamu tau, kan, apa yang bakal terjadi jika cucuku, akhirnya bergaul dengan anak anak yang suka merokok, nongkrong tidak keruan dan akhirnya akrab dengan pergaulan bebas ?"
Kedua orangtua Abu Luwes terhenyak.
Meski begitu, mereka akhirnya sepakat untuk mengijinkan putranya berangkat ke pengungsian, agar keinginan anaknya yang kepingin belajar mengabdi untuk lingkungan, berjalan dengan baik dan lancar. Malah, kedua orangtuanya sepakat untuk membekali Abu Luwes dengan aneka macam bawaan yang diwanti wanti agar sesampai di sana segera disumbangkan kepada para korban banjir yang di kemah pengungsian, memang membutuhkan uluran tangan dari siapa saja yang berjiwa dermawan
0 komentar:
Post a Comment