Friday, March 28, 2014

PANTUN JADILAH DERMAWAN

oleh : Oesman Doblank

Biarlah orang lain berebut jadi sengkuNI
Tapi diam diam kita terbang ke aWAN
Siapapun yang berpihak pada hati nuraNI
Mudah baginya menjadi seorang dermaWAN

Kalau cuma sekedar sakit sariaWAN
Nggak usahlah repot repot pergi ke dokTER
Siapa saja yang berminat menjadi dermaWAN
Ngelihat orang susah otomatis langsung gemeTAR

Pasalnya, berhati nurani jiwa tak pernah membaTU
Jadi, lihat duka orang pasti ikut merasa sengsaRA
Pasalnya, tiap lihat orang susah mauya membanTU
Pas lihat orang senang tentu saja ikut gembiRA

Betapa enak melihat semangat para sukarelaWAN
Berada di daerah bencana malah siap kerja keRAS
Nggak susah kok membangun jiwa jadi dermaWAN
Malah, pola pikir mengutamakan siap kerja keRAS

Manakala pesawat ke angkasa pasti melintas aWAN
Di pesawat, penumpang bijak membangun gagaSAN
Mari kita wujudkan kebaikan dengan menjadi dermaWAN
Yang setiap saat membantu orang lain dengan keikhlaSAN

Friday, March 21, 2014

KEPINGIN MENGABDI

oleh : Oesman

Ketika ABU LUWES menyampaikan niatnya, kedua orangtuanya kontan tercengang. Sebab, mereka sudah menyiapkan program mengantar Abu Luwes ke rumah kakek untuk menikmati liburan. Untung saja, ayah dan ibu Luwes bukanlah tipikal orangtua yang tak menggubris hasrat anak. Karena mereka menggubris, setelah menarik nafas, baik sang ayah maupun sang ibu, dengan cukup hati hati bertanya kepada Abu Luwes, untuk apa dia merubah acara liburan ke rumah nenek, dan apa untungnya jika dia memanfaatkan waktu liburnya untuk bergabung dengan rekan rekannya yang ingin menjadi suksrelawan ke daerah bencana
Abu Luwes dengan sikap tenang menjelaskan, dia tertarik untuk menjadi anggota sukarelawan karena selain ingin mengetahui seperti apa duka nestapa para pengungsi banjir yang sudah berhari hari tinggal di pengungsian, dan bagaimana apresiasi mereka terhadap dirinya dan kawan kawan, yang sengaja datang dan siap menginap di tenda tenda pengungsian, dengan niat utama membantu meringankan beban para korban banjir di pengungsian, dan selama di sana Abu Luwes tak hanya siap menyumbangkan pakaian bekas layak pakai, sejumput makanan dan yang tak kalah penting adalah tenaga dan pikiran, yang siap diaplikasikan saat mereka tinggal bersama dengan para korban banjir di tenda tenda yang dijadikan untuk tinggap selama rumah mereka masih direndam air.
"Sadarkah jika yang kamu lakukan, membuat kamu tidak konsisten dengan janji dan atas apa yang akan kamu lakukan, kakek dan nenek bisa kecewa, dan mereka bisa marah karena tak suka pada cucunya yang tiba tiba berubah dari anak baik menjadi anak yang mulai berani mengingkari janji," tanya mereka.
Namun, betapa terkejutnya kedua orangtua Abu Luwes, setelah putra mereka menjelaskan, rencana ini berubah karena dirinya dan nenek sudah sepakat, dan nenek malah mendorong agar rencana Abu Luwes dilaksanakan sedangkan soal liburan atau berkunjung ke rumah nenek bisa dilakukan kapan saja.
Karena tidak percaya, sang ibu bergegas mengambil hand phone dan menghubungi ibunya. Selain untuk mengkonfirmasi apakah yang dikatakan Abu Luwes benar, sang ibunda juga ingin menanyakan ke ibunya (neneknya Abu Luwes) mengapa malah mensupport cucunya untuk menjadi sukarelawan yang dampaknya malah pergi dan menginap di lokasi pengungsian, sedangkan rencana semula liburan di rumah nenek.
Dari ujung sana, Abu Luwes jelas mendengar suara neneknya, yang malah mentertawakan anaknya dan setelah itu beliau menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh cucunya sangat baik dan karena Abu Luwes memiliki kepekaan sosial dan hasratnya yang ingin mengabdi dengan tulus, sudah barang tentu harus didukung dan bukan malah dikungkung.
"Memangnya, kamu mau punya anak yang tak memiliki kepedulian sosial? Jika mau, yaa aku akan meminta kepada cucuku untuk membatalkan niatnya. Cuma, kamu nanti jangan kecewa, jika anakmu justeru tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tidak memiliki kepekaan apapun. Dan juga jangan kaget, bila akhirnya dia memilih bergaul di lingkungan yang malah merusak masa depannya.Kamu tau, kan, apa yang bakal terjadi jika cucuku, akhirnya bergaul dengan anak anak yang suka merokok, nongkrong tidak keruan dan akhirnya akrab dengan pergaulan bebas ?"
Kedua orangtua Abu Luwes terhenyak.
Meski begitu, mereka akhirnya sepakat untuk mengijinkan putranya berangkat ke pengungsian, agar keinginan anaknya yang kepingin belajar mengabdi untuk lingkungan, berjalan dengan baik dan lancar. Malah, kedua orangtuanya sepakat untuk membekali Abu Luwes dengan aneka macam bawaan yang diwanti wanti agar sesampai di sana segera disumbangkan kepada para korban banjir yang di kemah pengungsian, memang membutuhkan uluran tangan dari siapa saja yang berjiwa dermawan




Thursday, March 20, 2014

SUARA KITA SANGAT BERARTI

oleh : Oesman 

         APRIL sudah tinggal menghitung hari dan seolah sudah benar benar di pelupuk mata. Kita tak tau apa yang akan terjadi, dan apakah partai atau para kadernya yang lewat Pemilu 9 April 2014 terpilih, akan beda dari hasil Pemilu 2009. Jika sama saja, tentu saja tak perlu terlalu kecewa. Sebab, partai politik memang bekerja bukan untuk seluruh rakyat Indonesia, tapi sebatas untuk kelompok, golongan dan partai semata.  
         Dan, sejak era reformasi tentu saja tak saja terasa tapi juga sangat kentara. Sebab, perubahaperin Indonesia ke era refor masi, bukan menciptakan sebuah perubahan yang membuat rakyat sejahtera. Tapi sebatas perubahan orang yang berkuasa. Dan perubahan pemimpin dari Soeharto ke Presiden lainnya hingga akhirnya Indonesia dinakhodai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, tak banyak memberi arti karena yang justru menonjol bukan budaya memperbaiki diri dan juga bukan budaya ikhlas membela kepentingan rakyat. Melainkan  budaya korupsi.
          Budaya korupsi malah tak juga dilenyapkan tapi malah dibiarkan berkembang, dan KPK tak akan pernah bisa memberantas sampai ke titik nol, jika hukuman untuk para koruptor tidak membuat calon koruptor, mengurungkan niatnya untukkorupsi.
            Ringannya hukuman yang dijatuhkan untuk para koruptor, tidak bakalan menimbulkan efek jera tapi justeru dianggap tak ada apa apanya, karena jika diperhitungkan, jika seorang pejabat yang penghasilannya mencapai delapan puluh juta per bulan, dia malah rela dihukum lima tahun jika berhasil mencuri uang negara ratusan milyar.
            Mengapa? Karena jika dia tetap bekerja selama lima tahun, uang yang diperolehnya hanya mencapai Rp 80 juta x 12 bulan  x 5 tahun atau sebesar Rp. 4,8 Milyar. Karena hukumannya ringan, maka pastilah pilihan jatuh ke lebih baik korupsi  puluhan milyar, dan tinggal di penjara lima tahun di kurangii. Setelahnya, merasa bisa menikmati hidup enak karena uang hasil korupsi yang diperolehnya bisa menjadikan dirinya sebagai pengusaha.
            Begitulah kondisi yang tercipta, dan semua itu jadi realita karena kita telah memilih sosok yang tidak pandai melaksanakan amanah. Saat butuh suara kita, mereka berjanji akan memprioritaskan kesejahteraan rakyat. Tapi setelah duduk di gedung dewan dan statusnya resmi sebagai anggota DPR, yang dikonkritkan oleh mereka bukan mensejahterakan rakyat. Tapi mensejahterakan diri sendiri, dan kelompoknya
             Akankah di 9 April mendatang, setiap individu mampu memberikan suaranya ke sosok yang benar benar hanya sanggup melaksanakan amanah? Sepertinya, sulit sekali menjawab pertanyaan ini. Sebab, begitu banyak wajah lama (anggota DPR / DPRD priode silam) yang kembali merasa siap bertarung untuk mendulang suara rakyat, karena mereka tak bisa meninggalkan kursi empuk dengan begitu seja dan untuk itulah mereka kembali bertarung. Setidaknya, jika kembali berhasil, selama lima tahnn bisa oncang oncang kaki, karena budaya di gedung dewan, saat rapat komisi atau rapat paripurna, boleh tidur dan boleh tidak hadir. 
             Apa yang akan dilakukan oleh setiap pemilih agar setiap suara yang sangat berarti untuk mengubah wajah negeri ini, benar benar memberi banyak manfaat untuk kesejahteraan rakyat ? Jawabannya, ada di hati nurani masing masing.