CATATAN HARIAN EYANG KESURUPAN
SABTU, 33 NOVEMBER 2015
SEBENARNYA, kemarin, 32 NOVEMBER 2015, EYANG sangat kepingin nangis. Tapi, terpaksa eyang batalin. Sebab, nangis itu, kan mesti ngeliwatin proses nyang namanya sedih. Nah, begitu eyang ngerancang dan sudah mau sedih, eeeh, tau tau dibentak sama satpol PP. Pas eyang nengok sembari kaget, eeeeh dia melotot sembari bilang, " INGAT YAA... INI HALTE BUS WAY dan BUKAN HALTE BUAT NANGIS " Duuuuh, jadinya tersingguuuuuuuung banget, karena mau sedih saja mesti pada tempatnya. Padahal, begitu banyak cucu eyang yang buang sampah sembarangan sehingga got dan sungai penuh sampah dan di musim hujan akhirnya banjir
Hari ini, 33 NOVEMBER 2015, sebenarnya eyang mau ngelanjutin nangis. Cuma, mau nggak mau mesti eyang batalin.
EYANG Bukan nggak bisa nangis sembari sesenggukan. Juga bukan takut kehilangan air mata. Tapi sadar, kalau eyang nangis orang yang tinggal di tujuh kelurahan pasti bakal datang berbondong bondong, untuk memanfaatkan air mata eyang yang setiap tetesnya mengandung permata.
Itu sebabnya EYANG mesti tetep sabar. Yaa sabar, lantaran sampai 33 NOVEMBER uang pensiun belum juga bisa diambil. Padahal, biasanya, tiap tanggal 32 nyang namanya uang pensiun sudah keluar. Lantas, kenapa sampai 33 November belum juga dibayarkan?
KAYAKNYA, eyang memang mesti sabar, sesabar sabarnya dan nggak boleh sampai sabar sesubur suburnya. Sebab, kalau sabar sesubur suburnya, rekan eyang yang namanya pak SABAR dan punya seorang anak bernama SUBUR, bisa tersinggung. Terlebih, dia juga ngarepin banget supaya uang pensiun ke luar secepatnya. Sebab, anaknya yang nyaleg buat PEMILU 2016, butuh dana buat beriklan ria.
" Memang," kata pak SABAR, " KPU masih dipusingin sama soal DPT dan belum menetapkan jadwal kampanye. Tapi, anak saya harus curi start untuk beriklan ria."
Maklum, tambah pak SABAR, yang lain juga sudah pada berebut curi start.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Eyang.
Menurut Pak Sabar, makanya pada berebut curi start karena rindudapat kursi dan kalau nantinya menang, kan jadi punya keberanian buat curi uang negara.
EYANG tak bisa bilang apa2. Tapi, tetap nunggu uang pensiun keluar. Kalau sampai tanggal 37 November masih nggak dibayar juga, kayaknya nggak apa apa deh. Yang penting, kan, MA sudah mengeluarkan keputusan yang menghukum Angelina Sondakh, menjadi sekian tahun dan membayar sekian puluh milyar
Eyang senang benar tuh, waktu dua tahun silam membaca hal ini. Sebab, katanya, sebelumnya hanya divonis empat setengah tahun dan denda 500 juta perak.
Busyet deh, yang namanya koruptor, perempuan atau pria, yaa sama saja. Harus dihukum berat dan dimiskinkan. Kalau para hakim punya hati nurani dan pro rakyat, sebaiknya nyontoh keputusan Mahkamah Agung, yang menambah hukuman buat seorang koruptor bernama Angelina Sondakh, yang diberi amanah mensejahterakan rakyat malah ikut ikutan berenang di lautan korupsi
SABTU, 33 NOVEMBER 2015
SEBENARNYA, kemarin, 32 NOVEMBER 2015, EYANG sangat kepingin nangis. Tapi, terpaksa eyang batalin. Sebab, nangis itu, kan mesti ngeliwatin proses nyang namanya sedih. Nah, begitu eyang ngerancang dan sudah mau sedih, eeeh, tau tau dibentak sama satpol PP. Pas eyang nengok sembari kaget, eeeeh dia melotot sembari bilang, " INGAT YAA... INI HALTE BUS WAY dan BUKAN HALTE BUAT NANGIS " Duuuuh, jadinya tersingguuuuuuuung banget, karena mau sedih saja mesti pada tempatnya. Padahal, begitu banyak cucu eyang yang buang sampah sembarangan sehingga got dan sungai penuh sampah dan di musim hujan akhirnya banjir
Hari ini, 33 NOVEMBER 2015, sebenarnya eyang mau ngelanjutin nangis. Cuma, mau nggak mau mesti eyang batalin.
EYANG Bukan nggak bisa nangis sembari sesenggukan. Juga bukan takut kehilangan air mata. Tapi sadar, kalau eyang nangis orang yang tinggal di tujuh kelurahan pasti bakal datang berbondong bondong, untuk memanfaatkan air mata eyang yang setiap tetesnya mengandung permata.
Itu sebabnya EYANG mesti tetep sabar. Yaa sabar, lantaran sampai 33 NOVEMBER uang pensiun belum juga bisa diambil. Padahal, biasanya, tiap tanggal 32 nyang namanya uang pensiun sudah keluar. Lantas, kenapa sampai 33 November belum juga dibayarkan?
KAYAKNYA, eyang memang mesti sabar, sesabar sabarnya dan nggak boleh sampai sabar sesubur suburnya. Sebab, kalau sabar sesubur suburnya, rekan eyang yang namanya pak SABAR dan punya seorang anak bernama SUBUR, bisa tersinggung. Terlebih, dia juga ngarepin banget supaya uang pensiun ke luar secepatnya. Sebab, anaknya yang nyaleg buat PEMILU 2016, butuh dana buat beriklan ria.
" Memang," kata pak SABAR, " KPU masih dipusingin sama soal DPT dan belum menetapkan jadwal kampanye. Tapi, anak saya harus curi start untuk beriklan ria."
Maklum, tambah pak SABAR, yang lain juga sudah pada berebut curi start.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Eyang.
Menurut Pak Sabar, makanya pada berebut curi start karena rindudapat kursi dan kalau nantinya menang, kan jadi punya keberanian buat curi uang negara.
EYANG tak bisa bilang apa2. Tapi, tetap nunggu uang pensiun keluar. Kalau sampai tanggal 37 November masih nggak dibayar juga, kayaknya nggak apa apa deh. Yang penting, kan, MA sudah mengeluarkan keputusan yang menghukum Angelina Sondakh, menjadi sekian tahun dan membayar sekian puluh milyar
Eyang senang benar tuh, waktu dua tahun silam membaca hal ini. Sebab, katanya, sebelumnya hanya divonis empat setengah tahun dan denda 500 juta perak.
Busyet deh, yang namanya koruptor, perempuan atau pria, yaa sama saja. Harus dihukum berat dan dimiskinkan. Kalau para hakim punya hati nurani dan pro rakyat, sebaiknya nyontoh keputusan Mahkamah Agung, yang menambah hukuman buat seorang koruptor bernama Angelina Sondakh, yang diberi amanah mensejahterakan rakyat malah ikut ikutan berenang di lautan korupsi
0 komentar:
Post a Comment