Friday, November 22, 2013

SERI EYANG KESURUPAN

CATATAN HARIAN EYANG KESURUPAN
SABTU, 33 NOVEMBER 2015

SEBENARNYA, kemarin, 32 NOVEMBER 2015, EYANG sangat kepingin nangis. Tapi, terpaksa eyang batalin. Sebab, nangis itu, kan mesti ngeliwatin proses nyang namanya sedih. Nah, begitu eyang ngerancang dan sudah mau sedih, eeeh, tau tau dibentak sama satpol PP. Pas eyang nengok sembari kaget, eeeeh dia melotot sembari bilang, " INGAT YAA... INI HALTE BUS WAY dan BUKAN HALTE BUAT NANGIS " Duuuuh, jadinya tersingguuuuuuuung banget, karena mau sedih saja mesti pada tempatnya. Padahal, begitu banyak cucu eyang yang buang sampah sembarangan sehingga got dan sungai penuh sampah dan di musim hujan akhirnya banjir
Hari ini, 33 NOVEMBER 2015, sebenarnya eyang mau ngelanjutin nangis. Cuma, mau nggak mau mesti eyang batalin.
EYANG Bukan nggak bisa nangis sembari sesenggukan. Juga bukan takut kehilangan air mata. Tapi sadar, kalau eyang nangis orang yang tinggal di tujuh kelurahan pasti bakal datang berbondong bondong, untuk memanfaatkan air mata eyang yang setiap tetesnya mengandung permata.
Itu sebabnya EYANG mesti tetep sabar. Yaa sabar, lantaran sampai 33 NOVEMBER uang pensiun belum juga bisa diambil. Padahal, biasanya, tiap tanggal 32 nyang namanya uang pensiun sudah keluar. Lantas, kenapa sampai 33 November belum juga dibayarkan?
KAYAKNYA, eyang memang mesti sabar, sesabar sabarnya dan nggak boleh sampai sabar sesubur suburnya. Sebab, kalau sabar sesubur suburnya, rekan eyang yang namanya pak SABAR dan punya seorang anak bernama SUBUR, bisa tersinggung. Terlebih, dia juga ngarepin banget supaya uang pensiun ke luar secepatnya. Sebab, anaknya yang nyaleg buat PEMILU 2016, butuh dana buat beriklan ria.
" Memang," kata pak SABAR, " KPU masih dipusingin sama soal DPT dan belum menetapkan jadwal kampanye. Tapi, anak saya harus curi start untuk beriklan ria."
Maklum, tambah pak SABAR, yang lain juga sudah pada berebut curi start.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Eyang.
Menurut Pak Sabar, makanya pada berebut curi start karena rindudapat kursi dan kalau nantinya menang, kan jadi punya keberanian buat curi uang negara.
EYANG tak bisa bilang apa2. Tapi, tetap nunggu uang pensiun keluar. Kalau sampai tanggal 37 November masih nggak dibayar juga, kayaknya nggak apa apa deh. Yang penting, kan, MA sudah mengeluarkan keputusan yang menghukum Angelina Sondakh, menjadi sekian tahun dan membayar sekian puluh milyar

Eyang senang benar tuh, waktu dua tahun silam membaca hal ini. Sebab, katanya, sebelumnya hanya divonis empat setengah tahun dan denda 500 juta perak.
Busyet deh, yang namanya koruptor, perempuan atau pria, yaa sama saja. Harus dihukum berat dan dimiskinkan. Kalau para hakim punya hati nurani dan pro rakyat, sebaiknya nyontoh keputusan Mahkamah Agung, yang menambah hukuman buat seorang koruptor bernama Angelina Sondakh, yang diberi amanah mensejahterakan rakyat malah ikut ikutan berenang di lautan korupsi

Thursday, November 7, 2013

PANTUN DANA PUN MENGALIR

oleh : Oesman Doblank


Lhoo.. ngapain sih going ke CipuLIR
Kan mau borong baju dan celaNA
Dulu.. cuma air yang lancar mengaLIR
Sekarang... yang terus ngalir justeru daNA

Siapa yang berada di sebuah ruANG
Biasanya malah sibuk berkreativiTAS
Koruptor aktif lakukan pencucian UANG
Agar misi malingnya dianggap tunTAS

Boleh saja kok punya perut genDUT
Yang penting bebas penyakit janTUNG
Dana yang mengalir ke penyanyi dangDUT
Tentu saja bukan untuk beli makanan luTUNG

Sekarang, sudah sulit mendapatkan kaSET
Makanya kaset bajakan sudah nggak bereDAR
Dana yang mengalir sepertinya memang di SET
Makanya, sang penyanyi menerima dengan saDAR

Tentu beda penyanyi dengan kondukTOR
Penyanyi tampil lincah konduktor malah teNANG
Begitulah gaya dan tingkah laku para korupTOR
Duit hasil maling digunakan buat bersenang seNANG

Monday, November 4, 2013

HOBI.... KOK DISUAP

oleh : Oesman Doblank


DALAM hal berdo'a, bokin si DOGOL kebangetan getol. Cuma, sampe hari eni, doanye belum juga dijabah. Buktinya, sang suami - Dogol, tetap saja melakoni hobinya. Yaitu, memancing. 
Memang, hobi Dogol, suaminya, sama sekali tak merugikan keuangan negara. Juga tak mempengaruhi jalannya roda pemerintahan di kelurahan. Sebab, Dogol bukan pegawai kelurahan, dan selama hobi Dogol tetap dilaksanakan, bentuk layanan masyarakat di Kelurahan tak kurang satu apa alias tetap sehat walafiat dan dinyatakan tetap berjalan.

Malah, petugas kelurahan selalu stand bye dan siap melayani setiap warga dari berbagai RW dengan sebaik baiknya. Terlebih, jika setiap warga yang minta surat keterangan yang dibutuhkan bersedia membayar lebih. 
Wow.... jangan kate diminta agar segera bisa diselesaikan dalam waktu sesingkat singkatnya. Kagak diminta pun, justeru buru buru diselesaikan dan tentu saja tanpa halangan.

Bisa begitu, lantaran petugas di sana nggak punya alasan untuk berkilah kehabisan blanko. Juga malas mengatakan Pak Lurah belum datang atau sedang sibuk rapat di kecamatan atawa di kecomoton. Juga meras jenuh mengatakan yang nyimpan stempel belum datang dan laci meja kerjanya nggak tau ditaruh dimana.

Pendeknya, warga yang bersedia bayar lebih dengan permintaan khusus agar dikerjakan dengan secepat cepatnya, dalam waktu singkat, yang namanya surat keterangan kematian, surat keterangan pindah atau surat keterangan miskin banget, bakalan dibuat tanpa cidera. 

Itu sebabnya, dengan hobinya, DOGOL tak pernah merasa bersalah. Tak pernah ditegur oleh aparat. Terlebih, hobi mancingnya sama sekali tak merugikan orang lain. Pokoknya, aparat tak pernah mendapat laporan dari siapa pun - khususnya pemilik kolam pemancingan, yang melaporkan ulah Dogol yang dalam melaksanakan hobinya, tidak membayar biaya memancing. Baik dalam rangka mancing iseng maupun dalam momen lomba mancing.

Hanya, DOGOL tak bebas full. Artinya, dalam melaksanakan hobinya, dia harus terlebih dahulu menghadapi rintangan rutin, yang datang dari isterinya. Bisa demikian, bukan lantaran sang isteri tidak mendukung hobi sang suami. Tapi, lantaran merasa kedodoran. Sebab, selain menghabiskan jatah uang belanja yang dihabiskan untuk memancing, sang isteri juga kerepotan mengurus tiga anaknya yang meski pun masih kecil tapi tak beda dengan anak kecil lainnya, yaitu: bandel.

Meski begitu, DOGOL tetap bisa menarik nafas lega. Sebab, benturan kecil selalu bisa dihadapinya dan hingga saat ini, KPK tak punya alasan untuk menangkap tangan DOGOL. Selain tidak pernah menyuap ikan ikan di kolam agar dalam lomba memancing galak terhadap umpan yang dipasang di kailnya, Dogol juga tidak pernah menyogok pemilik kolam pemancingan, agar menetapkannya sebagai juara mancing.

Karena tidak pernah menyuap dan hobi mancingnya tidak dirubah jadi hobi disuap, nasib Dogol jadi jauh lebih baik dari Akil Mochtar. Sebab, Dogol tetap bisa hidup di alam bebas dan bersama keluarganya dia tak perlu menanggung malu, karena hobi memancing tak merugikan keuangan negara dan tak meruntuhkan nama baik instansi mana pun.

Hanya, entah mengapa, sang isteri masih terus berdoa agar suaminya menyetop hobi mancingnya.