Tuesday, September 24, 2013

MOBIL MURAH

oleh : Oesman


BOHONG kalau ada orang yang nggak mau punya mobil ? Makin dusta kalau lantas bilang, selain nggak mau punya mobil juga nggak mau punya rumah mewah, dan aneka barang yang serba mewah. Kok bisa disebut bohong, sih ?

Soalnya, setiap mahluk sosial punya keinginan. Jadi, dapat dipastikan, nggak ada orang yang males punya barang yang serba mewah. Cuma.... orang yang berakal sehat, tentu saja eling, ngeh, siapa dirinya dan bagaimana kondisi keuangannya.

Buat yang dokunya serba melimpah, jangan kata mobil murah, mobil yang harganya milyaran juga dibilang nggak mahal, kok?? Bisa begitu, meski harganya sepuluh milyar tetap dibilang murah lantaran dia bisa beli. Malah, bisa kasih mobil seharga sepuluh milyar buat anak kesayangannya yang menginjak usia 17 dan diberi sebagai kado untuk hadiah ulang tahunnya.

Tapi kalau yang dokunya pas pasan atawa yang dapat uang sepulang kerja dan sesampai di rumah langsung habis buat belanja kebutuhan rumah tangga, harga ayam potong yang harganya naik, malah dibilang sangat mahal dan akhirnya lebih hepi makan sama ikan asin, karena yang bisa dibeli sebatas ikan asin. Cuma, kalau tetap bersyukur, ikan asin yang dibeli dari duit halal, tetap dan malah mendatangkan  berkah.

Kalau soal harga, baru layak  dibilang murah, kalau semua orang bisa beli. Jadi, jangankan mobil, kalau beras dan susu buat anak aja nggak kebeli, untuk dua harga jenis barang ini, tentu saja dianggap mahal. Sebab, seperti yang judul lagu yang dinyanyikan Iwan Fals, yang dalam satu liriknya berbunyi :: BBM naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar omong soal subsidi, banyak bayi yang kurang gizi

Makanya, Pak Belalang malah ngakak, waktu anak bungsunya yang kalau ke sekolah naik angkot, minta dibelikan mobil. Sebab, kata anak pak Belalang, ayahnya harus beli mobil karena harganya murah seperti yang dia lihat di televisi,yang memberitakan pemerintah akan meluncurkan mobil murah untuk rakyat 

Pak BELALANG, terpaksa nanggapin dengan senyum, lantaran dia tidak tahu, harga mobil murah itu untuk siapa? Kalau untuk rakyat Indonesia, rakyat yang mana? Sebab, Pak Belalang merasa tak bisa beli. Buktinya, dia sering kelabakan saat Idul Fitri, Idul Adha, atau Natal dan Tahun Baru. Sebab, saat datang hari besar yang mestinya membuat rakyat riang gembira, harga harga kebutuhan pokok justeru dibiairkan naik seenaknya.

Sepertinya,pemerintah merasa tak punya kewajiban untuk mengontrol harga dan tak punya kewajiban untuk mendengarkan keluhan orang miskin, yang kesulitan membeli sembilan bahan pokok, karena para pedagang - di saat hari besar tiba, menaikkan harga seenaknya. Alasannya pun, asal ngejeblak. Sebab, tujuannya hanya satu, menaikkan harga seenak hatinya agar bisa meraup untung besar karena di hari besar, jumlah permintaan naik seribu prosen sedangkan suplai katanya kurang.

" Nak... kamu harus yakin bahwa naik angkot lebih sesuai dengan kondisi keuangan ayah, timbang beli mobil kalau pun harganya cuma lima puluh juta, untuk orang seperti kita harganya tetap mahal," kata pak Belalang pada anaknya yang kepengen banget punya mobil agar bisa lebih mudah pergi ke sekolah

"Tapi ayah," kata anaknya. " Kata pejabat yang diberitakan di televisi, harga mobil itu murah"

Meski pak Belalang harus berpikir keras agar anaknya mengerti bahwa bagi mereka mobil yang disebut sebut sang mentero justeru sangat mahal, beliau bisa juga memberi pengertian dan anaknya memaklumi kerena sang anak sadar, bahwa orangtuanya tak akan bisa beli, karena untuk membeli kebutuhan pokok saja, kembang kempis karena jika sudah naik, tak pernah turun lagi dan dilain kesempatan harganya malah makin melambung ke langit tinggi.

"Jadi,"ujar pak Belalang. " Kalah pak menteri bilang harga kebutuhan pokok harus turun 50 prosen agar rakyat tidak kesulitan membeli beras, minyak goreng dan semua kebutuhan pokok, baru kita bisa bilang, itu namanya baru murah"

"Ooooooo... gitu, yaa, pak. Wah... mungkin waktu bilang mau meluncurkan mobil murah, pak menteri lupa kalau di negeri kita masih banyak orang miskin dan koruptor, yaa,pak " kata anak pak Belalang

Pak Belalang hanya mengangguk sembari melempar senyumnya

Friday, September 20, 2013

PANTUN JELANG SORE

oleh : Oesman


Kirain cuma ogud yang super keRE
Gak taunya yang miskin kelewat baNYAK
Betapa asyiknya nyambut datangnya soRE
Saat siang bisa nikmatin indahnya tidur nyeNYAK

Gue bilang dikasih eh dia malah bilang dibeRE
Gue bilang mau makan eh dia bilang tuANG
Tetaplah bersyukur saat datang waktu soRE
Gak usah ngeluh walau dompet tak berisi uANG

Yaa jelas pahit, namanya juga yang ditumis paRE
Tapi kan yang terpenting bisa makan saat laPAR
Kemaren waktu ogud bengong sambil nunggu soRE
Eh, tiba tiba cewek ogud kayak mau ngegamPAR

Ogud bilang, apakah gerangan salah dan dosa beTA
Dia jawab, karena ogud ngebatalin janji ngajak maKAN
Kayaknya kepengen deh ogud netesin air maTA
Soalnya, kalau lagi bokek udeh janji malah dibatalKAN

Kalau saja bisa nikmatin empuknya sebuah  kurSI
Kepengen banget deh mengkhayal ketemu pejaBAT
Bagaimana mungkin KPK bisa berantas korupSI
Kalau di semua instansi yang bermukim malah tukang ngemBAT

Sunday, September 15, 2013

BELUM BOLEH DIBEZUK

oleh : Oesman


       KASIHAN pak BELALANG. Sudah tiga hari beliau terbaring di ruang Unit Gawat Jerawat dalam kondisi lesu, lemah, lunglai dan lapar  dan para awak medis tega teganya melarang pak Belalang makan padahal nggak minta dibayarin sama dokter, nggak minta ditraktir sama perawat dan nggak ngutang di kantin rumah sakit. 
       "Kalau orang sakit tidak boleh makan, apa nggak mati, dok?:"  protes anak Pak Belalang, yang memperkenalkan diri pada sang dokter bahwa dia putranya dan dalam kesempatan tersebut doski tanpa mokal mengatakan, beberapa bulan silam  dia sangat berminat menjadi  Calon Legislaitf tapi akhirnya rencananya yang matang bukan disekap agar makin matang tapi malah dimentahkan kembali, dan dia menggagalkan planingnya karena lebih enak menjadi CaAhGa alias Calon Ahli Surga.
          Semua diputuskan setelah dirinya berpikir keras dan berpikir super lembut, dan akhirnya dengan tegar membatalkan niatnya dan dana sekian milyar yang disiapkan untuk menggoalkan dirinya menjadi Calon Legislatif, dialih-gunakan tanpa ditukar guling dan pilihan utamanya dia membangun rumah yatim piatu dan bertekad akan mengurus anak anak yatim agar kelak mereka bisa "mentas" dan akhirnya menjadi generasi penerus yang kalau diangkat jadi pejabat memiliki sifat sifat yang sangat didambakan oleh rakyat, jujur, adil, bijaksana dan anti banget sama korupsi
       " Lhoo..memangnya anda tidak kepengen jadi anggota Dewan Yang sangat terhormat," tanya sang dokter, yang lantas mendekatkan wajahnya ke putra pak Belalang dan dia membisikkan, jadi anggota Dewan yang terhormat sangat mengasyikkan karena saat kerja bisa bobo, dan saat dinas ke luar kota bisa dialihkan ke luar negeri dengan alasan harus melakukan studi setanding.
          "Bukan studi banding, dok?" Tanya Jebrot, yang rada kaget juga ngedengar istilah yang disebut pak Dokter, yang kayaknya kecapean menangani ayahnya, Pak Belalang
        "Yang salah itu justeru studi banding..Sebab, kalau memang studi untuk mencari perbandingan perbandingan yang bakal dijadikan tolak ukur, hasilnya negara kita sudah maju dan jaya. Buktinya, semakin banyak koruptor, masih ada pungli dan gratifikasi dan begitu deeeh, tau sendiri doooong" Kata Pak Dokter
          "Itu sebabnya saya membatalkan niat jadi caleg, dok. Sebab, kalau kelak saya kalah, takut stress kelas berat. .Kan repot, dok? Makanya, uang sekitar tiga milyar yang saya siapkan, timbang melayang nggak keruan kan lebik baik saya gunakan untuk membangun rumah untuk panti asuhan yatim piatu."
            "Lhooo.. mestinya kalau anda optimis menang, saya jamin nggak bakalan kalah. Sebab, reputasi ayah anda, kan sungguh hebat. Siapasih yang tidak kenal pak Belalang?" Kata Pak Dokter
             "Saya sebenarnya yakin, dok. Tapi, kalau menang saya justeru makin repot. Sebab, harus berambisi untuk mengembalikan modal. Barapa yang saya habiskan untuk kampanye agar jadi pemenang, tentu berdampak negatif pada diri saya karena begitu duduk, hanya berpikir saya harus secepatnya mengembalikan uang bekas kampanye yang kalau perlu ples bunga. Nah, kalau sudah begitu, apa iman nggak melorot karena kepincut untuk ikutan korupsi berjamaah, dok,"  
            "Iyaa... juga yaa. Lantas kalau anda korupsi, teman sefraksi korupsi dan teman sesama anggota dewan lebih kepincut korupsi, lantas kapan Indonesia bisa bebas korupsi, yaa? Lagi pula, kasihan banget deh sama KPK yang akhirnya malah kagak bisa ngeberantas korupsi sampai tuntas, karena bertelur, nertelur dan netas lagi"
                Setelah merasa puas melayanin obrolan dari putra pak Belalang, pak Dokter segera pamit dan tanpa bla bla bla lagi, sudah langsung ngeloyor meninggalkan runagan UGD. Sedang anaknya tetap saja tak diperbolehkan masuh. harusa benar benar  rela menerima kenyataan, karena meski sudah berada di sebelah ayahnya yang terbaring lesu , lemah, lunglai, tidak bisa membisikan satu kata indah di telinga ayah-handanya.
                  Padahal, yang akan dibisikkan hanyalah sebuah kata sederhana, bunyinya :
                  " Ayah... benar kata ayah... korupsi makin sulit diberantas"
                  

Saturday, September 14, 2013

MEREKA, JANGAN DILUPAKAN

oleh : Oesman



        SANG AYAH bisa bersikap bijak. 
        Dia tak hanya kuatir pada anaknya yang masih dirawat dan membutuhkan perhatian, baik dari aspek medis maupun psikologis. Apa yang dilakukan sang ayah - yang menyempatkan diri untuk menyambangi keluarga korban, mencerminkan dirinya punya perhatian mendalam. Selain itu, sang ayah juga bijak. Tindakannya yang datang menjenguk keluarga korban, tak hanya bernilai hasrat bersilaturahmi dan berbagi duka. Tapi, sebagai bentuk lain dari tanggung jawab, yang siap dipikulnya. Dia merasakan, betapa duka mendalam dirasakan oleh keluarga korban, khususnya yang pasca kecelakaan menjadi yatim atau piatu.
       Sang ayah menunjukkan sikap bijak.
       Dia menyadari, petaka di tol Jagorawi mengakibatkan duka tak hanya bagi keluarganya. Juga bagi keluarga para korban, yang sama sekali tak menginginkan hal yang berbuah duka itu terjadi. Namun, ketika yang terjadi tak dapat dapat dihindarkan - baik oleh kemauan maupun oleh sikap hati hati, satu sama lain tak lagi berarti bila saling menyalahkan. Biarlah, sebab akibat dan konsekwensinya ditangani oleh kepolisian. Sebab, pihak yang berwajib memang mengemban tugas untuk menjadikan hukum sebagai hukum. 
      Sayang, kebijakan SANG AYAH tak berimbas ke yang lain.
      Kebanyakan orang malah seperti hendak mencari simpati. Mereka justeru fokus memperhatikan putra dari sang ayah. Popularitas sang ayah, memicu banyak orang terkenal untuk ambil bagian agar dirinya disorot dan diberitakan oleh media. Simpati yang ditunjukkan memang tak salah.
     Hanya, tidak adakah secuil simpati untuk melakukan hal yang sama, untuk menjenguk para korban yang masih dirawat di rumah sakit dan juga keluarga korban yang tewas, yang tentu sangat berduka karena telah kehilangan keluarga tercinta, yang diandalkan sebagai sosok yang menanggung beban untuk keluarga dan setelah tiada, anak anaknya tak hanya kehilangan ceria. Tapi sekaligus kehilangan peluang untuk melangkah ke masa depan, karena orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga telah tiada.
     Tak hanya para selebriti yang sepertinya menunjukkan simpati tapi sesungguhnya juga ingin namanya tetap diberitakan, oleh para awak media yang selalu stand by di rumah sakit, untuk mengikuti perkembangan putra sang ayah, yang telah menjalani beberapa kali operasi. Para Menteri pun "memperlihatkan" simpatinya yang tidak berimbang.
     Kalau saja fokus penjengukan tidak hanya ke satu arah, tak akan ada yang mengatakan mengapa para korban dan keluarga korban yang ditinggalkan tidak mendapat perhatian ? Padahal, boleh jadi, mereka tak hanya menderita dan menelan duka. Tapi, juga butuh perhatian khusus, baik dari aspek medis maupun psikologis.
    Apakah lantaran mereka tidak terkenal dan orang orang kecil yang dideskripsikan layak diluputkan dari perhatian? Jika tidak dimasukkan ke deskripsi seperti itu, mengapa tak timbul niat yang sama untuk membesuk, memberi support dan memberikan bantuan agar duka lara korban dan keluarga para korban sedikit berkurang?
    Sikap para awak media pun, sangat aneh. 
    Fokus peliputan hanya berpusat di tempat putra sang ayah dirawat. Sepertinya, kondisi korban dan keluarga korban tidak layak diberitakan karena bukan sosok terkenal dan dianggap hanya buang buang waktu karena tidak memiliki nilai jual.     
    Mestinya, jika putra sang ayah yang telah memperlihatkan sikap bijak seperti tak pernah dilupakan untuk dijadikan berita yang berkepanjangan, mereka yang jadi korban dan tengah dirawat serta keluarga korban yang kehilangan orang tercinta, jangan sampai dilupakan. Jangan sampai tidak diperhatikan. Bukan sebatas karena mereka juga manusia.
    Lebih dari itu, simpati dan empati harus disebar-luaskan secara merata. Jika Simpati dan empati hanya difokuskan ke satu tempat, kesan yang muncul hanya numpang lewat. Numpang memanfaatkan peluang karena di sana, sudah siap puluhan awak media yang siap berkerubung dan mewawancara setiap penjenguk yang namanya terkenal. Baik dia selebriti apalagi menjabat sebagai menteri.
   Jika sang ayah tidak melupakan korban dan para keluarga korban, dan mengklaim akan bertanggung jawab sepenuhnya, semoga tak hanya sikap bijaknya yang membuat para korban dan keluarganya merasa diperhatikan. Tapi, realisasi tanggung jawabnya, juga bakal membuat korban dan keluarga korban, merasa tidak disia siakan. 
   Bahkan, akan menilai, yang dilakukan sang ayah sangat banyak mengandung manfaat, karena membuat beban derita keluarga korban berkurang dan beban berat untuk masa depan anak anak yang ditinggalkan, menjadi banyak berkurang karena mereka diberi solusi untuk tetap mengarungi hidup tanpa cemas berkepanjangan karena kesiapan sang ayah yang ikut menanggung beban.
   Tak seorang pun yang ingin apalagi berharap mendapat musibah.
   Tapi ketika tragedi terjadi dan tak bisa dielakkan, berbagi rasa kepada sesama harus menyebar luas dan tak hanya fokus ke satu pihak, karena simpati dan empati yang datang dari siapa saja, sangat dibutuhkan oleh semua pihak, baik dia terkenal mapun sama sekali tak dikenal.
   Sang Ayah telah memberi pelajaran tentang bagaimana bersikap bijak.
   Sekiranya pelajaran berharga ini diserap oleh mereka yang peduli pada sesama, tentu tak ada bingkai yang layak diberi label, mereka tak perlu diperhatikan. Tapi kalau semua pihak sepakat untuk menyatakan, mereka jangan dilupakan, semua akan merasakan betapa indahnya berbagai rasa, berbagi simpati dan empati untuk sesama anak bangsa.

Friday, September 13, 2013

NOLAK JADI CALON PRESIDEN

oleh : Oesman



        PAK BELALANG gak pernah kepingin jadi sosok populer. Menurut  dia, jika dirinya terkenal bukan hanya merepotkan. Tapi, berat menanggung beban moral. Sebab, kalau dia mengatakan ayo atau mari kita beramal tapi jika diri sendiri tak beramal, selain bakal ditertawakan orang juga menanggung beban dosa karena telah dusta dan siapapun yang berkata tapi mengingkari janjinya, juga disebut munafik.

       Merasa lebih aman jadi manusia biasa dan jauh dari popularitas, membuat pak Belalang merasa bebas, geraknya pun tak terbatas, jika mau berbuat baik berarti perbuatannya meningkatkan kualitas dan jika dirinya khilaf - salah tindakan, tidak jadi sorotan.
       Pertimbangan itulah yang membuat pak Belalang memilih area sunyi dari publikasi timbang area ramai publikasi. Dan, yang kemudian dirasakan oleh pak Belalang adalah damai dan tenang. Pak Belalang merasa bahagia, karena saat berlimpah rezeki dan digunakan untuk berbagi, tak ada hawa nafsu yang mendorong dirinya untuk mengundang wartawan agar kegiatan amalnya diliput dan dipublikasikan. Juga tak ada hasrat untuk memanggil pengurus mesjid agar mereka mengumumkan bahwa pak Belalang baru saja atau tengah membagikan sembako untuk orang orang miskin.
      Makanya, saat seorang rekannya datang dan membujuk pak Belalang agar ikutan konvesi untuk Capres mendatang, pak Belalang malah tertawa terhabak habak alias terbahak bahak. Dan, inilah tawa pertama pak Belalang yang sampai ke tingkat terbahak bahak. Sebelumnya, bukan tak pernah tertawa tapi tawa pak Belalang, hanya sebatas terbihik bihik. Hanya kedengeran oleh sekelompok cicak
.     Rekan pak Belalang yang merasa punya niat baik, sudah barang tentu sangat merasa tersungging. Sebab, selain niatnya baik dia juga sangat serius mengajak pak Belalang ikutan konvensi capres karena sebagai Wakil Ketua Partai Ngedongkrak Nasib Rakyat Melarat, dia kepingin sosok seperti pak Belalang tampil sebagai pemimpin Indonesia masa mendatang.
      "Bukankah banyak sosok lain yang lebih pantas dan kredebilitasnya sudah diakuibanyak orang? Kalau saya? Maaf, mimpi jadi Lurah saja nolak. Bukan nggak mau mengabdi untuk rakyat, tapi, jalan untuk mengabdi, menurut saya, sangat banyak. Jadi, saya lebih ingin mengabdi menurut cara saya." Ujar pak Belalang, yang terpaksa menjelaskan mengapa dirinya menolak
     "Tapi menurut saya, sampeyan adalah sosok yang sangat kredibel. Saya yakin, sampeyan mampu memimpin dan mensejahterakan rakyat. Sebab, dari banyak calon yang sudah mendaftar, saya belum melihat sosok yang kredibilitas dan dasar ikhlas mengabdinya seperti sampeyan. Percayalah, kebanyakan hanya bertujuan untuk pribadi, kelompok dan golongannya saja," jelas rekan pak Belalang yang karena sangat berharap berusaha membujuk sekuat tenaga agar pak Belalang bersedia memenuhi ajakannya
      Akhirnya, Pak Belalang bukan hanya tetap menolak ajakan rekannya. Tapi malah menyarankan agar sang rekan merapat ke Jokowi. Pak Belalang yakin, saat ini, sosok Jokowi termasuk salah seorang pemimpin yang layak dijadikan calon presiden. Selain hasil survey lebih sering menempatkan namanya di urutan paling atas, beliau juga sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan kinerja serta kesederhanaan sosoknya, langsung menjelaskan jika Jokowi merasa berasal dari rakyat dan hanya ingin merakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat.
      "Jadi, sampeyan nggak usah bersusah payah membujuk saya. Oke ?" Kata Pak Belalang
      Rekannya yang sebenarnya sangat kecewa hanya menggerutu.
      " Kalau soal itu sih ogud juga sudah tahu friend"


alt/text gambar 
       

Thursday, September 12, 2013

PAK BELALANG

TAK TAKUT DIRUNDUNG MALANG
oleh : Oesman


     JANGAN mengucap kata " kasihan " di hadapan pak Belalang, meski dia berada dalam kondisi, sedang dirundung malang. Bukan berarti dia enggan dikasihani. Hanya, dirinya merasa tak pantas untuk dikasihani. Pertama, karena dirinya sama sekali tidak cacat karena dua tangan dan dua kakinya ada, dua telinga pun masih bertahta di kiri kanan kepala. Pun anggota tubuh lainnya tak kurang satu apa. Mulai hidung, bibir, mata, alis, dagu dan yang lainnya, melekat sejak dia dilahirkan ke dunia.

     Jangan bilang : "Kasihan pak Belalang". Apalagi dengan suara keras dan sampai beliau mendengar. Mengapa? Karena Pak Belalang hanya ingin dikasihani oleh Sang Maha Pencipta. Kalau oleh sesama, dia tak berharap iba. Sebab, di tubuhnya yang sehat dan kuat, tersimpan tenaga yang kekuatannya dapat dimanfaatkan oleh pak Belalang untuk mencari nafkah.
     Hal itu dibuktikan oleh pak Belalang saat dia belum dapat pekerjaan tetap. Saat itu,, dia tak ingin luntang lantung yang bagaimana pun tetap lapar dan dahaga. Makanya, Pak Belalang tak hanya siap jadi kondektur Tapi, di waktu lain dia juga bersedia jadi kuli bangunan. Bahkan, saat pekerjaan tetap belum diperolehnya, pak Belalang pernah ikut jadi knek menggali sumur.
    Pendeknya, karena pak Belalang sangat bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah memberinya tubuh sempurna - tanpa cacat, dia tak butuh belas kasihan dari orang lain, sementara dirinya sendiri berleha leha. Makanya, saat seorang temannya mengajak pak Belalang mengemis, pak Belalang menolak mentah mentah
    " Apa salahnya? Saat perut lapar dan kita kehausan kan butuh makan dan minum. Kalau tak ada uang, mau beli pakai apa?" Kata kawannya yang kecewa karena pak Belalang menolak ajakannya.
    "Kalau aku lapar dan dahaga, kucari makan dan minum dengan tenaga. Aku bisa mengayuh becak, sanggup mendorong gerobak dan memikul air. Pokoknya, pekerjaan kasar apapun siap aku lakukan, karena aku bersyukur pada Tuhan yang telah menciptakan tubuhku tanpa cacat," ujar pak Belalang
    " Hei kawan... mengemis itu menghasilkan banyak uang. Modalnya, hanya tampil lusuh dan pamer wajah penuh duka. Lalu, tadahkan tangan uang datang berlimpah. Kalau seorang minimal kasih seribu rupiah, sehari dapat pemberian dari seribu orang, jumlah sudah sejuta. Bukankah malah membuat kita cepat kaya?" Desak temannya.
   Pak Belalang yang sama sekali tak tertarik, sebenarnya sangat kesal dengan rekannya yang mengajak mencari uang dengan cara seperti itu. Hanya, pak Belalang tak ingin mengumbar kesal.
   " Jika kamu ingin melakukannya, silahkan. Tapi, maaf... tubuhku masih sehat, tenagaku masih berlimpah. Jika dalam kondisi seperti ini aku mengemis, artinya sama saja aku menelantarkan karunia Tuhan yang tetlah memberiku tubuh yang tanpa cacat dan melimpahkan padaku kesehatan jasmani dan rohani"
   Rekan pak Belalang tak mau lagi membujuk apalagi memaksa. Dia meninggalkan pak Belalang dengan penuh rasa kecewa. Sedangkan pak Belalang bersyukur pada Sang Pencipta, karena tak tergiur dengan ajakan mencari nafkah dengan cara yang tidak selaras dengan keberadaan manusia, yang diberi tenaga dan pikiran, namun malah tak dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.
   Begitulah masa lampau yang dilalui oleh pak Belalang saat dia masih muda dan belum dapat pekerjaan tetap. Namun, karena dia pandai bersabar, akhirnya pak Belalang berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi, yang oleh masyarakat disebut atau dianggap sebagai tempat basah. Bukan karena gedungnya sering kebanjiran air dari sungai yang di musim hujan kerap kali meluap, tapi basah karena banjir penghasilan.
   Kalau saja pak Belalang mau dan ikhlas terseret arus, boleh jadi dia tak hanya ikut, tapi juga larut bersama rekan rekannya yang malah saling berlomba untuk bisa berbasah basah. Karena pilihan pak Belalang tidak ingin berenang dan berbasah basah meski di tempatnya bekerja kebanjiran rezeki, pak Belalang hanya ikhlas menunaikan tugas tanpa pamrih.
   "Bukankah setiap bulan aku digaji dan juga mendapat tunjangan yang memadai? Jumlahnya pun tak akan kurang, jika aku selalu bersyukur pada Tuhan dan hasil per bulan kumanfaatkan sesuai dengan kebutuhan," kilah pak Belalang, yang mau tak mau harus menjelaskan pada rekannya yang kerap terheran heran, karena pak Belalang tak tertarik untuk ikut lomba berbasah basah bersama semua rekannya.
    Meski keberadaan dan sikap pak Belalang akhirnya dipermasalahkan, pak Belalang tak pernah merasa dirundung malang. Dia yakin, jika orang lain merasa sangat berhak mengikuti kehendak hatinya dan lebih rela berbasah basah, dirinya pun berhak bersikap dan berprilaku sesuai dengan suara hatinya. Pak Belalang yang sikapnya tak ingin diusik oleh siapa pun, tetap bertekad untuk tidak mengusik siapapun.
    Toh, setiap manusia, kelak diminta pertanggung jawaban dan masing masing akan menuai buah dari bibit yang ditanam oleh setiap pribadi, semasa malakoni hidup dan kehidupan di dunia.


alt/text gambar 

Tuesday, September 10, 2013

SEDERHANA ITU INDAH

oleh : Oesman



      SAYA tak pernah berpikir bakalan terkecoh, karena rekan saya yang mengajak berlibur ke kampung halamannya, dengan sangat serius mengatakan, " Setiap kali melihat rumah saya, para tetangga di kampung pasti bilang rumahku mewah. Jadi, saya yakin kamu bakalan betah, sebab panoramanya indah dan tiap pagi kita bisa mendaki gunung untuk menikmati udara segar yang tak pernah kita dapatkan di Jakarta "

     Saat itu, jika saya menyatakan setuju dan siap berangkat ke kampung rekan saya, bukan karena dia mengatakan rumahnya mewah.Tapi, informnasi udara segar dan hembusan angin yang sejuk saat mendaki gunung, membuat saya tak ragu lagi untuk menyetujui ajakannya.
    Dan, setiba di sana, meski saya ikut bukan karena rumah rekan saya mewah, tapi saya cukup kaget. Sebab, sampai masuk ke rumahnya saya tak melihat kemewahan apapun. Malah, rumah teman saya biasa saja. Lebih menonjolkan kesan sederhana.
    " Saya tak menyangka kalau kamu ahli memperdaya," kata saya, saat kami rilek untuk meluruskan kaki dan pinggang yang terasa pegal, sembari menikmati teh manis panas dan singkong rebus
    " Memangnya sejak kapan kamu mengatahui saya ahli memperdaya?" Rekan saya heran
    "Kemarin.. kamu bilang orang orang di sini mengenalmu sebagai pemilik rumah mewah. Nyatanya, rumah kamu biasa saja dan saya melihat, di sekitar sini tak satu pun ada rumah mewah," ujar saya
    Teman saya nyaris tersedak teh manis, karena ia terbahak bahak.
    "Mehong... Mehong... di sini justeru banyak rumah mewah. Kalau kamu nggak melihat, berarti ada yang salah pada penglihatan atau hati kamu"
    Busyet ! Siapa yang nggak kaget jika rekan saya malah berkata seperti itu.Tapi, untung saja, sebelum saya menyahut, rekan saya sudah kembali bersuara.
    " Friend... melihat itu ada dua cara. Pertama dengan kedua mata telanjang, sedangkan yang kedua dengan hati. Lihatlah, dengan seksama, puluhan rumah mewah terlihat di pelupuk mata. Hanya, artinya bukan gemerlap dan secara fisik tidak sama dengan rumah di kawasan pondok indah atau kawasan real estate. Tapi, rumahku dan rumah para tetangga memang mewah. Mepet ke sawah. Lihat, bukankan cukup lima langkah kita sudah sampai ke sawah," kata rekan saya.
    " Tapi," lanjutnya.
    ":Kami disini bahagia, karena bisa membangun hidup dengan cara dan gaya yang sederhana. Dan kesederhanaan kami, memang sangat bervariasi. Artinya, bukan berarti tak ada yang kaya raya. Sebab, sesungguhnya banyak yang kaya raya. Hanya, kami semua sepakat, kekayaan kami bukan untuk foya foya dan bermewah mewah di jalan keburukan. Kami justeru berfoya foya di jalan kebaikan. Untuk itu kami punya rumah yatim piatu dan rumah jompo," ujarnya
    " Saya kok tidak mengerti maksud kamu," kata saya sambil mengernyitkan kening.
    " Saya memang yakin kamu tidak akan mengerti. Sebab, pejabat dan orang pintar yang suka korupsi saja tak akan pernah bisa mengerti mengapa kita di sini bisa hidup sederhana dan bermewah mewah dengan amal, sedangkan mereka malah bermewah mewah dengan uang hasil korupsi," ujar rekan saya.
   " Lhoo.. lhooo... kok malah membawa bawa soal koruptor?" Potong saya.
   "Ingat friend, meski ada KPK yang bersikap tegas dalam menindak, koruptor di Indonesia itu tak akan bisa dibasmi. Sebab, kalau pun mereka tertangkap, malah bisa hidup lebih enak. Di penjara, mereka bisa menyulap ruangan menjadi tempat yang mewah. Di pengadilan, mereka seperti tak bersalah karena para hakim lebih suka memvonis lebih ringan dari tuntutan jaksa."
   "Kau tahu mengapa para hakim di pengadilan tipikor seperti sepakat dengan rekan rekannya untuk memvonis para koruptor dengan hukuman ringan?" tanya rekan saya.
  Saya langsung menggeleng, karena merasa tidak tahu mengapa bisa seperti itu.
  "Karena mereka tidak bisa hidup sederhana dan kepinginnya hidup mewah," kata teman saya.
  "Padahal, hidup sederhana itu indah, ya?" ujar saya.
  Teman saya tak menyahut. ia malah buru buru ke dapur dan tak lama telah kembali dengan sepiring singkong rebus yang baru. Rupanya, teman saya lebih tahu kalau rebus singkong adalah makanan nikmat yang paling saya sukai, dan saya selalu menikmati dengan cara sederhana. yaitu, selalu bersyukur karena doyan dengan singkong dan makanan tradisional khas Indonesia.
  Saya yakin, kalau saya suka singkong rebus dan makanan asli Indonesia, Jokowi yang setelah jadi pejabat malah bisa lebih tampil sederhana, juga pecinta singkong rebus. Selain itu, kelihatannya juga suka mengabdi untuk rakyat. Ah, kalau saja di samping saya ada pak Jokowi dan sama sama menikmati singkong rebus, beliau pasti terobsesi untuk membudi-dayakan singkong dan mendorong para petani menanam singkong untuk dieksport ke mancanegara

alt/text gambar 
   
 

Saturday, September 7, 2013

FENOMENA JOKOWI

oleh : Oesman 




       PEMILU (Pemilihan Umum) yang dilaksanakan lima tahun sekali sesungguhnya bukan sekedar prosesi dari pesta demokrasi untuk memilih Caleg dan Capres. Hajat besar besaran yang menghabiskan banyak biaya (mencapai trilyunan) ini, sesungguhnya menjadi kawah harapan rakyat Indonesia, yang tak sebatas ingin hidup tentram dan damai. Tapi juga ingin sejahtera dan menjadi bagian rakyat dunia yang memiliki harga diri, derajat dan kemampuan bersaing dengan negara lain di dunia, baik dari aspek ekonomi maupun aspek kehidupan lainnya.

      Dan tak lama lagi, Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi yang dilaksanakan tiap lima tahun dan selama ini, meski pelaksanaannya tak terlalu banyak masalah, namun implementasi pasca terpilihnya Wakil Rakyat dan Presiden (beserta wakilnya) sangat tidak sesuai dengan berbagai janji yang selama masa kampanye digembar-gemborkan oleh Caleg dan Capres serta Cawapres.
      Sedemikian sulitkah mewujudkan impian rakyat, sehingga siapapun Presiden dan Anggota DPR, malah cenderung mengecewakan atau membuyarkan harapan rakyat. Membludaknya kasus korupsi, misalnya, sampai saat ini tak juga reda dan rakyat menjadi semakin prihatin karena makin banyak anggota DPR yang mestinya tetap terhormat namun dalam perjalanan pelaksanaan amanah, malah jadi penghuni penjara. Padahal, apa yang dilakukan saat kampanye, sangat pandai menghembuskan angin segar namun dalam aplikasinya justeru mengganti amanah jadi aminah
      Amanah yang mestinya dilaksanakan dengan benar, baik dan banyak menaburkan manfaat untuk rakyat malah diganti dengan aminah, karena di perjalanan tugasnya lebih tertarik untuk memperkaya diri sendiri dan mementingkan kepentingan golongan, timbang membela dan peduli pada rakyat.
      Tak heran jika pada akhirnya, kekecewaan rakyat terhadap pemimpin sampai ke tahap yang paling menjenuhkan. Sebab, semakin rakyat menaruh harapan yang kemudian didapat dan dirasakan hanya kekecewaan. Selalu demikian karena para pemimpin tak memiliki kemampuan melaksanakan amanah akibat beban tanggung jawab yang diberikan oleh rakyat, dirubah menjadi aminah demi kepentingan pribadi dan golongannya.
      Itu sebabnya rakyat yang terlanjur kecewa sangat merindukan sosok pemimpin yang jiwa patriot dalam membangun dan mensejahterakan bangsa, tak hanya meletup letup di saat masa kampanye. Tapi, letupannya justeru lebih dahsyat setelah berhasil meraih simpati dan empati massa.
      Pemimpin yang seperti ini - selama era reformasi sama sekali tak kelihatan, meski sudah beberapa orang Presiden yang duduk di tampuk kekuasaan dan ribuan orang yang mengubah status dirinya menjadi anggota dewan yang terhormat.
      Jadi, sangatlah wajar jika pada akhirnya, yang kemudian muncul adalah fenomena Jokowi.
      Sosok Gubernur DKI Jakarta yang namanya mulai memfenomena sejak menjadi Walikota Solo, semakin diperbincangkan karena gaya kepemimpinannya dianggap mewakili harapan rakyat. Dan Jokowi yang sepertinya biasa dengan kesederhanaan, justeru disukai oleh masyarakat karena dengan tampilannya Jokowi tak hanya memperlihatkan betapa sederhana itu penting dan penuh dengan keindahan. Tapi, sekaligus menjadi barometer yang membuat pemimpin bisa mendekat dengan rakyat dan rakyat mengapresiasi kesederhanaan Jokowi sebagai suatu hal yang memudahkannya untuk selalu dekat dengan rakyat.
      Jika sejak beberapa bulan silam nama Jokowi yang terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta melesat sebagai Calon Presiden terkuat diantara sekian banyak nama yang telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden RI priode 2014 - 2019, bukanlah perkara kebetulan. Artinya, namanya memfenomena bukan karena adanya upaya mempopulerkan, baik dengan cara rekayasa atau membangun imej. Sebab, tak ada kelompok yang secara terang terangkan mengumumkan keberadaannya sebagai tim yang ingin menggolkan Jokowi sebagai Presiden.
      Kenyataan ini, mestinya diapresiasi dengan sikap paling positif. Pihak pihak yang merasa tersaing, mestinya tak perlu takut atau kuatir. Sebab, mencuatnya nama Jokowi sebagai Capres justeru harus dijadikan dasar yang paling kuat untuk melakukan berbagai upaya, sehingga masyarakat yang semula gandrung pada Jokowi, juga terpikat untuk menggandrungi nama lain, karena yang bersangkutan juga mampu membangun karakter positif dan kharisma yang kuat dan akhirnya rakyat mengakui bahwa calon lain pun layak dijadikan sosok pemimpin yang jika terpilih kelak, justeru lebih berhasil dari Jokowi, baik dalam kinerja maupun dalam berbagai hal lainnya.
      Sesungguhnya, yang diinginkan rakyat bukan Jokowi. Tapi, sosok pemimpin yang karena ikhlas dalam melaksanakan amanah, dirinya mampu memenuhi semua keinginan rakyat yang rasional. Hanya, saat ini, rakyat melihat bahwa sosok yang sangat diharapkan terlebih dahulu melekat di Joko Widodo alias Jokowi, yang dari dan masih menjabat sebagai Walikota Solo justeru berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan setelah menjadi orang nomor satu di Provinsi DKI Jakarta, bersama wakilnya dia bekerja tidak dari belakang meja. Tapi langsung ke sumber masalah, sehingga tahu apa yang terjadi dan paham bagaimana cara mengatasi.
      Tipikal pemimpin yang malas menerima laporan yang isinya Asal Bapak Senang, jadi mengatahui mana yang riil dan harus diprioritaskan sehingga masalah tidak tertunda atau menumpuk, tapi diselesaikan dengan kebijakan yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat.
     Dan, kinerja Jokowi, sangat diapresiasi oleh masyarakat karena Jokowi bukan hanya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi juga berusaha dengan sebaik baiknya agar amanah yang diberikan kepadanya tidak berubah jadi aminah.

Pasang Kode Iklan Anda Disini

alt/text gambar