Sunday, September 15, 2013

BELUM BOLEH DIBEZUK

oleh : Oesman


       KASIHAN pak BELALANG. Sudah tiga hari beliau terbaring di ruang Unit Gawat Jerawat dalam kondisi lesu, lemah, lunglai dan lapar  dan para awak medis tega teganya melarang pak Belalang makan padahal nggak minta dibayarin sama dokter, nggak minta ditraktir sama perawat dan nggak ngutang di kantin rumah sakit. 
       "Kalau orang sakit tidak boleh makan, apa nggak mati, dok?:"  protes anak Pak Belalang, yang memperkenalkan diri pada sang dokter bahwa dia putranya dan dalam kesempatan tersebut doski tanpa mokal mengatakan, beberapa bulan silam  dia sangat berminat menjadi  Calon Legislaitf tapi akhirnya rencananya yang matang bukan disekap agar makin matang tapi malah dimentahkan kembali, dan dia menggagalkan planingnya karena lebih enak menjadi CaAhGa alias Calon Ahli Surga.
          Semua diputuskan setelah dirinya berpikir keras dan berpikir super lembut, dan akhirnya dengan tegar membatalkan niatnya dan dana sekian milyar yang disiapkan untuk menggoalkan dirinya menjadi Calon Legislatif, dialih-gunakan tanpa ditukar guling dan pilihan utamanya dia membangun rumah yatim piatu dan bertekad akan mengurus anak anak yatim agar kelak mereka bisa "mentas" dan akhirnya menjadi generasi penerus yang kalau diangkat jadi pejabat memiliki sifat sifat yang sangat didambakan oleh rakyat, jujur, adil, bijaksana dan anti banget sama korupsi
       " Lhoo..memangnya anda tidak kepengen jadi anggota Dewan Yang sangat terhormat," tanya sang dokter, yang lantas mendekatkan wajahnya ke putra pak Belalang dan dia membisikkan, jadi anggota Dewan yang terhormat sangat mengasyikkan karena saat kerja bisa bobo, dan saat dinas ke luar kota bisa dialihkan ke luar negeri dengan alasan harus melakukan studi setanding.
          "Bukan studi banding, dok?" Tanya Jebrot, yang rada kaget juga ngedengar istilah yang disebut pak Dokter, yang kayaknya kecapean menangani ayahnya, Pak Belalang
        "Yang salah itu justeru studi banding..Sebab, kalau memang studi untuk mencari perbandingan perbandingan yang bakal dijadikan tolak ukur, hasilnya negara kita sudah maju dan jaya. Buktinya, semakin banyak koruptor, masih ada pungli dan gratifikasi dan begitu deeeh, tau sendiri doooong" Kata Pak Dokter
          "Itu sebabnya saya membatalkan niat jadi caleg, dok. Sebab, kalau kelak saya kalah, takut stress kelas berat. .Kan repot, dok? Makanya, uang sekitar tiga milyar yang saya siapkan, timbang melayang nggak keruan kan lebik baik saya gunakan untuk membangun rumah untuk panti asuhan yatim piatu."
            "Lhooo.. mestinya kalau anda optimis menang, saya jamin nggak bakalan kalah. Sebab, reputasi ayah anda, kan sungguh hebat. Siapasih yang tidak kenal pak Belalang?" Kata Pak Dokter
             "Saya sebenarnya yakin, dok. Tapi, kalau menang saya justeru makin repot. Sebab, harus berambisi untuk mengembalikan modal. Barapa yang saya habiskan untuk kampanye agar jadi pemenang, tentu berdampak negatif pada diri saya karena begitu duduk, hanya berpikir saya harus secepatnya mengembalikan uang bekas kampanye yang kalau perlu ples bunga. Nah, kalau sudah begitu, apa iman nggak melorot karena kepincut untuk ikutan korupsi berjamaah, dok,"  
            "Iyaa... juga yaa. Lantas kalau anda korupsi, teman sefraksi korupsi dan teman sesama anggota dewan lebih kepincut korupsi, lantas kapan Indonesia bisa bebas korupsi, yaa? Lagi pula, kasihan banget deh sama KPK yang akhirnya malah kagak bisa ngeberantas korupsi sampai tuntas, karena bertelur, nertelur dan netas lagi"
                Setelah merasa puas melayanin obrolan dari putra pak Belalang, pak Dokter segera pamit dan tanpa bla bla bla lagi, sudah langsung ngeloyor meninggalkan runagan UGD. Sedang anaknya tetap saja tak diperbolehkan masuh. harusa benar benar  rela menerima kenyataan, karena meski sudah berada di sebelah ayahnya yang terbaring lesu , lemah, lunglai, tidak bisa membisikan satu kata indah di telinga ayah-handanya.
                  Padahal, yang akan dibisikkan hanyalah sebuah kata sederhana, bunyinya :
                  " Ayah... benar kata ayah... korupsi makin sulit diberantas"
                  

0 komentar:

Post a Comment